Ngobrolin: Menikah?

This is gonna be my wildest story ever wkwk. Ini beneran maksa di publish habis ngedate malming sama girls geng — Ah I don’t know! Saya mau bilang apalagi coba? cuma ai don’ no yang bisa saya bilang. Tapi itu dulu ketika saya kepikiran sesuatu yang berbau menikah. Baru-baru ini, persepsi saya soal menikah itu kayak gini: ‘ini perempuan kalau bahasannya soal menikah-menikah terus, pasti kebelet banget buat nikah!’.

Rasanya kalau kebelet itu kayak bermakna negatif gitu, kayak gimana gitu. Jadi, saya cenderung gak mau bahas itu-itu lagi, tapi wkwk diem-diem tetep nonton kajiannya haha. Eh makin kemari, dan ada korelasi juga sih dengan circle pertemanan, kayaknya gak harus separno itu kok kalau ngebahas soal menikah. Like really tho, saya gak tertarik dengan topik yang lebih dari separuh hidup saya, insyaAllah akan saya habiskan dalam pernikahan? Trus saya gak tertarik untuk bahas itu? Cewek macam apa saya ini! Lanjutkan membaca “Ngobrolin: Menikah?”

Iklan

Secangkir Hati (Alumunium Kehidupan)

Bicara tentang hati, saya tidak ingin sekali atau dua kali. Penginnya berkali-kali. Sama seperti curhat, maunya lagi dan lagi. Kira-kira seperti itulah jurnal ini, tidak lebih dari sebuah curahan hati seorang perempuan biasa.

Bicara soal cangkir, saya teringat cangkir di rumah saya yang sering saya pakai. Terkadang, kenapa lebih cenderung pakai cangkir yang tidak mudah pecah, karena saya tidak perlu khawatir kalau tiba-tiba tersenggol. Nah, cangkir ini biasanya saya isi dengan jenis minuman yang berbeda-beda. Boleh jadi air putih, jus, teh, susu dan sesekali jamu, oh kalau kopi jarang sekali. Jamu juga jarang sih wkwk.

Lanjutkan membaca “Secangkir Hati (Alumunium Kehidupan)”

Perjalanan

Bukan karena paksaan
Bukan pula karena tidak ku miliki pilihan
Bilamana aku tak ketepian
Bisa jadi busuk sudah aku muncul kepermukaan

Bagaimana hendak kelak di perjalanan
Bertabur kekecewaan tiada penghabisan
Bertarung keluh dengan keadaan
Bak istana tanpa kejayaan

Bahtera sudah berlayar ke depan
Bangkit menuju singgasana harapan
Banyak yang frustasi karena haus kebahagian
Berlimpah pula yang regresi karena kini punya tujuan

Berakit kita kehuluan
Berenang kita ketepian
Bersakit senang selalu bersamaan
Bersahaja damai kita upayakan

Love, Anta

Ngobrolin: Hijab Bukan Aksesoris

Okay sebelum saya lanjut, judul ini terinspirasi dari akun Instagram @sisteraid yang pernah bikin story tentang ini. Singkat tapi on point. Terus saya kepikiran ini banget yang pernah saya alami. So, I am not going to take any responsible for anyone who get offended from this (I hope not obviously), because I am talking about my faith and by that, I mean nothing but only to clarify (to share what I’ve known) something messed up in society that affects me personally and spiritually if I don’t share what’s the truth from my religion’s point of view.

Let me begin with a story of my own. Masih sangat membekas di ingatan saya, turning point di awal Januari tahun ini. Saya memutuskan untuk benar-benar aktif di dunia blog. Keputusan yang cukup berani karena bekal menulis saya hampir tidak ada. Meskipun sudah lama mulai menulis. Namun, karena terobsesi dengan label modest fashion influencer, saya tidak peduli sebaik apa yang saya tulis, yang penting saya mulai saja. Hmm, I don’t know but ya.

Akhirnya, saya pun menulis. Again, yang tujuannya showing off my existence, hmm ya begitulah. Naturally, saya adalah tipikal yang sangat suka drawing attention to myself. Saya sadar dan tahu persis, jika tidak bisa di kontrol keberadaanya, akan sangat tidak baik untuk diri saya sendiri. It was literally, all I wanted was about fame. Kan ada ya orang seperti itu. Lanjutkan membaca “Ngobrolin: Hijab Bukan Aksesoris”

Bisakan?

Dengerin coba kata hatimu
Biarin dia bicara jujur walau malu
Kalau tak suka, gak papa tau
Cukup biarkan ia mengoceh yang ia mau

Coba kali ini, ajak pikiranmu ngalah padanya
Tidak sulit kok, dengerin aja
Nanti kau juga tau rasanya
Kau bisa dapatkan yang kau cari di sana
Mudah-mudahan ya

Hmm lalu begini
Setelah kau dekati
Ia akan kenalkan temannya yang seperti belati
Menusuk tapi sebenarnya tidak menyakiti
Ia adalah waktu, yang kau mungkin tak peduli
Kau memang tidak ingin ia temani
Tapi ternyata cuma dia yang mengobati

Sudah bisakan begitu?
Jangan khawatir, kau akan baik-baik saja
Yuk sini, mari berberes diri

Pertarungan dalam Hati

Saya pernah telalu pede sampai merasa kalau hati saya ini sudah terfokus ke Allah swt saja. Like I totally give all my heart to Allah, and only Him. Tapi kemudian, ada beberapa kali, sering malah, terlintas di dalam hati saya: “bener gak sih aku ini udah seutuhnya ke Allah?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada sering muncul di benak saya. Melihat diri yang begitu masih banyak berbuat dosa, most of the time secara sadar, saya menganggap diri saya ini jahat. I said yes Allah is my Illah, but then I disvowed.

Tapi makin saya mencoba pahami, itu tanda Allah sayang sama saya. Tanda Allah sedang ngasih tahu saya, kalau hati saya (mungkin) lagi gak bener. Saya sedikit demi sedikit tercerahkan kalau pain after pain yang saya alami sampai sekarang ini, sebenarnya calling dari Allah yang berkali-kali lho, Allah set supaya hampaNya kembali ke Dia.

Lanjutkan membaca “Pertarungan dalam Hati”