Ngobrolin: Setelah Sekian Hari Ramadhan

It’s been so long until I finally can’t even describe my feelings anymore with writings. Padahal pengin ngomongin sedikit, sedikit aja tentang Ramadhan tahun ini. Kayaknya saya ini kebanyakan baca yang ‘tingi-tinggi’ kali ya, sampai mau bilang “Ramadhan, I love you” aja susah haha. But it’s true. Nge-draft hapus berkali-kali yaAllah. Tapi ini baca yang ‘tinggi-tinggi’, baca apaan ya wkwk! Are you guys feeling the same just like what I felt after not writing for such a long time?

Ya akhirnya meski belum dipenghujung Ramadhan, tapi kita sudah masuk ke 10 hari terakhir bulan puasa yang penuh berkah ini. Do you guys have any plans? selain mikirin buat kue, baju lebaran, THR bocil-bocil sekampung, atau prasmanan yang bakal ‘on’ syawal ini?

Lanjutkan membaca “Ngobrolin: Setelah Sekian Hari Ramadhan”

Aku kah Hamba yang Kau Cinta?

Oh Allah sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena ketakwaannya, maka aku bukanlah hamba yang kau cintai.

Sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena kesabarannya, maka aku bukan pula hamba yang kau cintai itu.

Sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena perbuatan baiknya, maka jelas aku tak sedikitpun pantas kau cintai.

Sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena jihadnya, maka aku takkan pernah menjadi hamba yang kau cintai.

Tapi oh Allah, aku tahu ternyata Kau begitu baik, tak ada alasan untuk tidak menjadi hamba yang Kau cinta.

Betapapun begitu besar kriteria untuk menjadi seorang hamba yang Kau cinta, namun Kau pun ternyata masih mencintai seorang pendosa seperti ku.

Oh Allah, terimalah permohonan ampun ku, dan aku bertaubat kepada-Mu.

Apa Ketakutan Terbesarmu?

Jika saya boleh mengambil satu dari random questions that people could give me, saya akan pilih pertanyaan “Kehilangan apa yang paling membuatmu bersedih?” bukan karena saya benar-benar ingin menjawab, atau ada unpopular opinion yang ingin saya sampaikan, justru pertanyaan itu membuat saya semakin tak terpatahkan dan tak pernah kehilangan harapan.

Lalu mengapa harus ditanyakan?

Kadang, ada beberapa pertanyaan bagi sebagian orang yang memang bukan untuk dijawab. Biarkan itu menjadi sebuah pengingat sekaligus penguat. Tak perlu ada jawaban. Dan mungkin, hanya orang yang mempunyai list unanswered question yang mengerti apa yang saya rasakan.

We cannot deny that there are a lot of possible questions that people could throw at us. Saya memilih untuk menelan mentah-mentah beberapa pertanyaan tersebut. Just because I want peace in my life karena kebanyakan orang hanya ingin mendengar jawaban yang hanya pas di hati mereka saja: whether it’s about justifying that they are true, or I am a loser.

Questioning is supposed to make you more knowledgeable not humiliating people.

Answering my first question, I told you I had no answer. I tell you why, nothing that in this world mentally makes me too happy, then there is no such a thing that makes me too sad, because I am no longer a person of pursuing happiness, rather I am people of excellence, people of impact. If you want to know more about this, then watch on Youtube, Ustadh Nouman Ali Khan video, titled 8 Level of Personality.

Tapi kalau pertanyaan ini “What is your biggest fear?” then my answer would be “Away from my God”.

Jangan Marah, Tahan Amarahmu

Sebagian dari keluarga dan orang-orang terdekat mu, mungkin tidak suka dengan apa yang kau sampaikan. Mungkin kau kini lebih banyak belajar tentang agama dan kau mungkin lebih dekat dengan Tuhanmu, tetapi keluargamu tidak dan itu justru membuatmu marah dan geram.

Kau marah ketika saudaramu tidak memakai hijab, kau marah saat saudaramu tidak sholat lima waktu, kau marah saat caramu dan cara mereka memilih pempimpin berbeda, dan kau lebih marah lagi ketika pilihanmu untuk mengikuti Qur’an dan Sunnah justru melebeli mu seorang teroris. You get so mad at them.

No, don’t get angry at them.
Jangan marah, tahan amarahmu.
Bicaralah dengan tenang, bicaralah dengan damai. Lanjutkan membaca “Jangan Marah, Tahan Amarahmu”

Cara-Nya Menjawab Doa

Jika ada diantara kalian yang masih menuliskan setiap angan, cita dan harapan di selembar kertas kecil atau di sebuah buku yang berisi jurnal keseharian atau dimanapun kalian suka, yang masih terjangkau untuk mengingatnya, maka tetaplah seperti itu. Tulislah.

Tulis, meskipun pada saat kau lihat ‘kotak kecil’ itu pun masih belum juga ter-checked done, bahkan jauh melewati waktu perkiraanmu harusnya terlaksana. Hingga saatnya tiba, doa mu sudah kau pikir kadaluarsa, tak mungkin lagi mendapatkannya diusia segini, se-kondisi ini, tak ada lagi harapan baru untuk merasakan kemenangan yang kau nanti-nanti itu. Tetap tuliskan. Tulislah lagi.

Lanjutkan membaca “Cara-Nya Menjawab Doa”

Habits Terbaik

Akhirnya, saya kembali menuliskan apa-apa yang ada di dalam pikiran saya tepat setelah saya melahap habis buku yang berjudul How To Master Your Habits seharian tadi karangan Ustadz Felix Y. Siauw, Alhamdulillah ada tambahan penyemangat baru untuk saya menulis lagi.

Saya memang sudah terlanjur terkesan berkali-kali dengan setiap tulisan beliau di potongan Instagram yang hampir semua bait kata cukup menohok dan membangunkan satu-dua sel dari se-triliun sel saraf di otak saya. Ilmu baru semua isinya!

Lanjutkan membaca “Habits Terbaik”

Ngobrolin: Anta, Kau Bahagia Ga?

Seorang teman dekat saya yang gak pernahnya se-straight ini (dia anaknya straight sih, tapi kali ini agak beda aja) tiba-tiba berhasil membuat saya terdiam beberapa detik. “Anta, kau bahagia ga?”

Setelah saya sadari, diamnya saya beberapa detik ini punya makna lain. Ya even though I know I am always in the mood of happy all the time, but that question has never been asked to my self by someone else, which has deep meaning here ya karena dia itu salah satu teman dekat, sangat dekat (gak tau sih kalau menurut dia wkwk), yang berarti ada chemistry dan common sense disana untuk telling the truth. You don’t hide secret to your BFF, do you?

It’s easy to say ‘I am happy’ to a stranger or someone you don’t really care about, because they don’t mean the world to you, tapi kalau sama orang terdekat kita? Hmm saya rasa kalau pun sedang benar-benar lagi ada masalah besar, pasti langsung nangis dan mewek-mewek trus cerita deh.

Lanjutkan membaca “Ngobrolin: Anta, Kau Bahagia Ga?”