Kurang Dua bulan, Menuju Kelahiran 2020

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. YaAllah, gak terasa, haha terasa kok, nipu banget nggak terasa. Sebenarnya sambil ketik ini, saya males sekali ambil note planning 2019 kemarin, tapi yaudahlah diambil aja.

Eng ing eng.

Dari 18 main goals, cuma satu yang ter-checklist pemirsa. Wow saya semakin bangga dengan diri saya yang hmm luar biasa ini.

Trus saya berasa hopeless gitu? enggak.
Menyalahkan diri gitu? enggak.
Stress? enggak.
Kecewa? enggak.
Ngerasa bodoh gitu? iyaaaaa, wkwk!

Saya bodoh banget sih, kenapa ter-checklist satu, kenapa gak semua aja yang tidak tercheklist, kan gak jadi legend, yah.

Intermezzo aja guys.

Lanjutkan membaca “Kurang Dua bulan, Menuju Kelahiran 2020”

Ngobrolin: Blog Nggak ‘Sexy’ Lagi?

Kayaknya, iya sih.

Buktinya saya sekarang jarang banget update di Blog (pedean banget, gimana ceritanya satu banding 3.083.500 pengguna blog di Indonesia, nggak ngaruh ah, belum lagi sedunia).

Mau motivasi ngeblog-nya curhat nggak jelas sampai di fokusin supaya menghasilkan duit, kayaknya sama aja, soalnya kagak ada orang, nggak rame. Tapi masa iya sih, saya gak percaya loh (halu nih, tanya sendiri, jawab sendiri).

Tapi saya beneran nanya, apakah kalian juga merasa disini terlalu sepi?

Kalau saya nih ya, teman disekeliling saya yang saya kenal dan masih mainin blog itu 2 orang, tapi sekarang udah 0. Pada nggak tahan, nggak tau kenapa. Nggak hobbi curhat onlen kayaknya mereka ya. Sepi banget kan, trus yang baca blog saya hampir-hampir 0. Untuk tulisan nonorganik ya, ada beberapa postingan saya masih di liat: seorang sehari, hmm mayanla, setidaknya ada yang ngunjungin, dari pada jomblo wkwk (nih anak gak nyadar kalau dia juga jomblo, praha, eh parah!)

Lanjutkan membaca “Ngobrolin: Blog Nggak ‘Sexy’ Lagi?”

Just because… doesn’t mean…

Kamu, perempuan, jujur saja memang sangat berperasaan. Baper lah istilahnya. Meskipun kadarnya berbeda-beda, kebanyakan memang begitu. Dan untuk kamu yang Bapernya tidak over dosis, selamat, Allah memberimu sedikit kadar kejantanan sehingga tak mudah untuk mu diluluh-lantakkan perasaan.

Dari banyaknya fenomena kelamin sejenis ku, aku sedikit menyoroti perihal jodoh, yang sedikit banyaknya membuat berbagai populasi baper berdasarkan tingkatan kesensitifannya, menjadi komunitas ‘bucin’.

Lanjutkan membaca “Just because… doesn’t mean…”

Dulu Kita Pernah

Kalau aku bilang, kejadian bertahun-tahun lalu itu seperti kemarin, siapa yang percaya. Ya percaya aja, namanya juga pengandaian. Tapi percaya gak, kalau efeknya itu bukan cuma hanya tentang kemarin, tapi jauh dimasa akan datang nanti, check in yang kita harap tak akan pernah terjadi itu, akan datang dengan wujud lain, sampai-sampai kita sendiri enggan dan gak percaya, kok segitunya ya.

Trus kamu tanya, waktu itu kapan? Hmm aku senang kamu masih curious sama kapan itu terjadi, cuma aku sendiri juga gak tau kapan. Tapi katanya sih dekat, bahkan itu tuh lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Kamu tau itu apa?

Aku mau tanya, kamu percaya gak sama diri kamu yang sekarang ini, adalah karena kamu yang dulu seperti itu. Kalau kamu percaya bagus, berarti kamu aware sama diri kamu sendiri, tapi kalau enggak, mungkin, seperti ada penyesalan yang belum selesai deh kayaknya. Coba diselesaikan dulu.

Lanjutkan membaca “Dulu Kita Pernah”

Dear Unknown – A Syawal Letter

Hey you!

This could be another trash talk I have had promised I would not do. But girls surely could not hide it any longer not to scream it out loud. Now she thinks she can decrease a bit pressure by sharing it into writing, even though in fact it won’t happen. But I am just gonna do it anyway. Beforehand, may Allah bless me.

and also you there.

I know it’s getting so close, and I am sure you know what I am talking about. Thinking that you’re getting more unknown had me worried about what am I supposed to do. Oh please, listen to my emotional feeling first before I get into ‘my medicine’, it’s not gonna take you an hour, I promise.

Lanjutkan membaca “Dear Unknown – A Syawal Letter”

Nikmat Mencintai Ilahi

Sebelum lanjut, kalian perlu dan saya pikir harus menonton, video pada link berikut.

Kira-kira apa yang kalian rasakan setelah menonton video itu? Kalau saya pribadi, saya malu dan saya sangat-sangat malu, malu sama diri sendiri, dan terutama malu sama Allah.

Saya tahu Mbak Nadiah, dari akun instagram beliau. Waktu itu seingat saya, salah satu artis atau influencer, nge-tag akun Mbak Nadiah. Karena saya tertarik dengan postingan beliau, saya kemudian langsung follow Mbak Nadiah sampai sekarang. Meskipun saya tahu Mbak Nadiah punya blog dengan nama nadiahlovinglupus.wordpress.com, tapi saya gak benar-benar sadar kalau Mbak nya sendiri yang mengalami lupus, sampai Hijab Alila upload video diatas di akun Youtube-nya dua hari yang lalu.

Lanjutkan membaca “Nikmat Mencintai Ilahi”