Dulu Kita Pernah

Kalau aku bilang, kejadian bertahun-tahun lalu itu seperti kemarin, siapa yang percaya. Ya percaya aja, namanya juga pengandaian. Tapi percaya gak, kalau efeknya itu bukan cuma hanya tentang kemarin, tapi jauh dimasa akan datang nanti, check in yang kita harap tak akan pernah terjadi itu, akan datang dengan wujud lain, sampai-sampai kita sendiri enggan dan gak percaya, kok segitunya ya.

Trus kamu tanya, waktu itu kapan? Hmm aku senang kamu masih curious sama kapan itu terjadi, cuma aku sendiri juga gak tau kapan. Tapi katanya sih dekat, bahkan itu tuh lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Kamu tau itu apa?

Aku mau tanya, kamu percaya gak sama diri kamu yang sekarang ini, adalah karena kamu yang dulu seperti itu. Kalau kamu percaya bagus, berarti kamu aware sama diri kamu sendiri, tapi kalau enggak, mungkin, seperti ada penyesalan yang belum selesai deh kayaknya. Coba diselesaikan dulu.

Atau kamu memang belum move-on. Kamu masih bilang ini sudah terlanjur, ini sudah terlalu jauh dan gak mungkin untuk balik lagi, dan kamu menginginkan orang lain membiarkan kamu seperti ini, saat diri kamu sendiri aja enggak mau terus-terus kayak gini. Kamu serius?

Hey ‘ini’ tu bisa jadi ‘itu’ tau. Sama kayak kamu percaya ada orang bilang, bertahun-tahun itu serasa seperti kemarin. Ya itu pun kalau kamu percaya wkwk. I mean, It’s never too late, you know! Ya kita memang pernah kayak dulu tapi it doesn’t mean that we can’t be ‘now’.

Maksud aku tuh gini, coba pikir baik-baik. Yang aku bilang tentang tadi yang dekat itu, yang dekat banget itu, kapanpun, dimanapun dan ke siapapun, bisa aja terjadi hari ini di detik ini juga. Pernah dengar gak, nanti siapapun dari kita bahkan rela menumbalkan sahabat, istri dan anak-anaknya demi untuk balik ke hari ini. Tapi gak bisa, gak bisa. Waktu kita udah habis.

Okay, aku, kamu dan kita semua, tidak akan pernah bisa menjadi baik sebaik-baiknya baik, karena kita diciptakan memang suka bikin kesalahan. Tapi yang betul-betul baik sesungguhnya itu adalah saat kita bikin kesalahan kita ber-istighfar, mohon ampun sama Allah, berjanji dengan sekuat tenaga dan kerja keras yang penuh untuk menjauhi segala hal yang membuat kita akan melakukan kesalahan yang sama. Menjauhi segala bentuk ketidakpatuhan atas Allah dan Rasul-Nya. Udah itu aja, insyaAllah semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang berlevel Ihsan, Allahumma amiin.

Efeknya nanti gimana, itu bukan bagian kita. Biar Allah saja yang Maha Melihat. Sejauh apa yang sudah kita ikhtiarkan, niatkan untuk jadi pemberat kebaikan kita nanti, hingga tiba dimana kita tak perlu berpikir menumbalkan orang-orang yang kita sayangi untuk menebus kesalahan kita sendiri.

Di hari yang baru ini, masi persiapkan yang dekat itu, mari persiapkan mati.
We don’t live once, we live every day. We only die once!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s