Just because… doesn’t mean…

Kamu, perempuan, jujur saja memang sangat berperasaan. Baper lah istilahnya. Meskipun kadarnya berbeda-beda, kebanyakan memang begitu. Dan untuk kamu yang Bapernya tidak over dosis, selamat, Allah memberimu sedikit kadar kejantanan sehingga tak mudah untuk mu diluluh-lantakkan perasaan.

Dari banyaknya fenomena kelamin sejenis ku, aku sedikit menyoroti perihal jodoh, yang sedikit banyaknya membuat berbagai populasi baper berdasarkan tingkatan kesensitifannya, menjadi komunitas ‘bucin’.

Lanjutkan membaca “Just because… doesn’t mean…”

Dulu Kita Pernah

Kalau aku bilang, kejadian bertahun-tahun lalu itu seperti kemarin, siapa yang percaya. Ya percaya aja, namanya juga pengandaian. Tapi percaya gak, kalau efeknya itu bukan cuma hanya tentang kemarin, tapi jauh dimasa akan datang nanti, check in yang kita harap tak akan pernah terjadi itu, akan datang dengan wujud lain, sampai-sampai kita sendiri enggan dan gak percaya, kok segitunya ya.

Trus kamu tanya, waktu itu kapan? Hmm aku senang kamu masih curious sama kapan itu terjadi, cuma aku sendiri juga gak tau kapan. Tapi katanya sih dekat, bahkan itu tuh lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Kamu tau itu apa?

Aku mau tanya, kamu percaya gak sama diri kamu yang sekarang ini, adalah karena kamu yang dulu seperti itu. Kalau kamu percaya bagus, berarti kamu aware sama diri kamu sendiri, tapi kalau enggak, mungkin, seperti ada penyesalan yang belum selesai deh kayaknya. Coba diselesaikan dulu.

Lanjutkan membaca “Dulu Kita Pernah”