Nikmat Mencintai Ilahi

Sebelum lanjut, kalian perlu dan saya pikir harus menonton, video pada link berikut.

Kira-kira apa yang kalian rasakan setelah menonton video itu? Kalau saya pribadi, saya malu dan saya sangat-sangat malu, malu sama diri sendiri, dan terutama malu sama Allah.

Saya tahu Mbak Nadiah, dari akun instagram beliau. Waktu itu seingat saya, salah satu artis atau influencer, nge-tag akun Mbak Nadiah. Karena saya tertarik dengan postingan beliau, saya kemudian langsung follow Mbak Nadiah sampai sekarang. Meskipun saya tahu Mbak Nadiah punya blog dengan nama nadiahlovinglupus.wordpress.com, tapi saya gak benar-benar sadar kalau Mbak nya sendiri yang mengalami lupus, sampai Hijab Alila upload video diatas di akun Youtube-nya dua hari yang lalu.

Lanjutkan membaca “Nikmat Mencintai Ilahi”
Iklan

Ngobrolin: Setelah Sekian Hari Ramadhan

It’s been so long until I finally can’t even describe my feelings anymore with writings. Padahal pengin ngomongin sedikit, sedikit aja tentang Ramadhan tahun ini. Kayaknya saya ini kebanyakan baca yang ‘tingi-tinggi’ kali ya, sampai mau bilang “Ramadhan, I love you” aja susah haha. But it’s true. Nge-draft hapus berkali-kali yaAllah. Tapi ini baca yang ‘tinggi-tinggi’, baca apaan ya wkwk! Are you guys feeling the same just like what I felt after not writing for such a long time?

Ya akhirnya meski belum dipenghujung Ramadhan, tapi kita sudah masuk ke 10 hari terakhir bulan puasa yang penuh berkah ini. Do you guys have any plans? selain mikirin buat kue, baju lebaran, THR bocil-bocil sekampung, atau prasmanan yang bakal ‘on’ syawal ini?

Lanjutkan membaca “Ngobrolin: Setelah Sekian Hari Ramadhan”

Aku kah Hamba yang Kau Cinta?

Oh Allah sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena ketakwaannya, maka aku bukanlah hamba yang kau cintai.

Sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena kesabarannya, maka aku bukan pula hamba yang kau cintai itu.

Sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena perbuatan baiknya, maka jelas aku tak sedikitpun pantas kau cintai.

Sekiranya Engkau mencintai hamba-Mu karena jihadnya, maka aku takkan pernah menjadi hamba yang kau cintai.

Tapi oh Allah, aku tahu ternyata Kau begitu baik, tak ada alasan untuk tidak menjadi hamba yang Kau cinta.

Betapapun begitu besar kriteria untuk menjadi seorang hamba yang Kau cinta, namun Kau pun ternyata masih mencintai seorang pendosa seperti ku.

Oh Allah, terimalah permohonan ampun ku, dan aku bertaubat kepada-Mu.

Apa Ketakutan Terbesarmu?

Jika saya boleh mengambil satu dari random questions that people could give me, saya akan pilih pertanyaan “Kehilangan apa yang paling membuatmu bersedih?” bukan karena saya benar-benar ingin menjawab, atau ada unpopular opinion yang ingin saya sampaikan, justru pertanyaan itu membuat saya semakin tak terpatahkan dan tak pernah kehilangan harapan.

Lalu mengapa harus ditanyakan?

Kadang, ada beberapa pertanyaan bagi sebagian orang yang memang bukan untuk dijawab. Biarkan itu menjadi sebuah pengingat sekaligus penguat. Tak perlu ada jawaban. Dan mungkin, hanya orang yang mempunyai list unanswered question yang mengerti apa yang saya rasakan.

We cannot deny that there are a lot of possible questions that people could throw at us. Saya memilih untuk menelan mentah-mentah beberapa pertanyaan tersebut. Just because I want peace in my life karena kebanyakan orang hanya ingin mendengar jawaban yang hanya pas di hati mereka saja: whether it’s about justifying that they are true, or I am a loser.

Questioning is supposed to make you more knowledgeable not humiliating people.

Answering my first question, I told you I had no answer. I tell you why, nothing that in this world mentally makes me too happy, then there is no such a thing that makes me too sad, because I am no longer a person of pursuing happiness, rather I am people of excellence, people of impact. If you want to know more about this, then watch on Youtube, Ustadh Nouman Ali Khan video, titled 8 Level of Personality.

Tapi kalau pertanyaan ini “What is your biggest fear?” then my answer would be “Away from my God”.