Ngobrolin: Anta, Kau Bahagia Ga?

Seorang teman dekat saya yang gak pernahnya se-straight ini (dia anaknya straight sih, tapi kali ini agak beda aja) tiba-tiba berhasil membuat saya terdiam beberapa detik. “Anta, kau bahagia ga?”

Setelah saya sadari, diamnya saya beberapa detik ini punya makna lain. Ya even though I know I am always in the mood of happy all the time, but that question has never been asked to my self by someone else, which has deep meaning here ya karena dia itu salah satu teman dekat, sangat dekat (gak tau sih kalau menurut dia wkwk), yang berarti ada chemistry dan common sense disana untuk telling the truth. You don’t hide secret to your BFF, do you?

It’s easy to say ‘I am happy’ to a stranger or someone you don’t really care about, because they don’t mean the world to you, tapi kalau sama orang terdekat kita? Hmm saya rasa kalau pun sedang benar-benar lagi ada masalah besar, pasti langsung nangis dan mewek-mewek trus cerita deh.

Kalau ada orang bertanya seperti diatas, kira-kira apa yang akan kau jawab? For me, that seconds yang buat saya terdiam, adalah is somebody’s happiness also a concerning of other people? Lalu mengapa orang-orang begitu peduli dengan kebahagian orang lain? Apakah karena dia merasa dirinya atau banyak disekitarnya yang kelihatan happy tapi faktanya they’re not happy? Sehingga pencapaian kebahagian itu sebenarnya tidak ada atau bahkan mustahil? Orang-orang hanya terlalu mahir menyembunyikan kesengsaraanya?

Sebelum saya share jawaban saya disini, saya ingin menampilkan dulu pemantik dibalik teman saya bertanya hal seperti itu dan dia jawab, “Terkadang orang lupa menanyakan itu ke dirinya sendiri, kadang banyak yang pura-pura bahagia, banyak yang terlihat mengalir seperti air. Ada yang tertelan arus kompetisi dan ambisi dan ada juga yang gak paham definisi bahagia. Bahagia punya arti yang dalam, dan hanya orang yang benar-benar bahagia yang bisa benar-benar memahaminya”.

The last sentences is absolutely true. Kalau seandainya saya tidak memahami apa makna bahagia yang saya pegang sekarang dalam hidup ini, my life is going to be miserable all the time sampai saya mati, karena bahagia yang saya pahami adalah making sure that everything is okay in other people’s eyes. People are tired of meeting society standard, they become part of status quo but they don’t realize about it, it slowly kills them from the inside and that’s why they can’t feel contentment in their life.

Mungkin gak banyak yang tau kalau begitu kita lahir ke dunia, kita sudah di barengi dengan sepaket full package kemudahan dan kesulitan yang akan secara bersamaan kita lalui semasa hidup di dunia. Kesulitan yang tidak akan mungkin diluar batas kemampuan kita. There is no ‘after trials you will be in ease’. It is ‘with trials there’s ease’. Bukan ‘setelah kesulitan hari ini, tidak akan ada lagi kesulitan, yang ada hanya akan terus kemudahan’ tapi yang benar adalah ‘kesulitan akan selalu dibarengi dengan kemudahan’.

And if you realized, no one ever has a perfect perfect perfect life. Orang-orang udah se-paket dengan kesulitannya masing-masing. Kita mungkin menginginkan kemudahan yang dimiliki orang lain, tapi kalaulah seandainya kita tahu kesulitan yang ia alami, pasti kita juga gak akan kuat dan sanggup untuk berada di posisi mereka.

Dari situ saya mengerti bahwa, esensi bahagia dalam hidup adalah mengerti bahwa akan selalu ada masa sulit dalam hidup kita, dan disaat yang bersamaan pula, ada juga kemudahan.

Mungkin kita lupa, kemudahan yang paling nikmat dalam hidup adalah memiliki tubuh yang sehat dan dapat menghirup udara tanpa alat bantu selang oksigen. Mungkin kita lupa, kita berada di lingkungan yang baik dan rekan-rekan yang perduli. Mungki kita lupa, kita masih merasakan lelahnya bekerja bukan lelahnya tidak bekerja. Mungkin kita lupa, kalau ada yang hidupnya tidak lebih baik dari kita. Mungkin kita lupa bersyukur atau mungkin kita lupa, bahwa Rabb kita adalah Allah Ta’alaa.

I am so much happy, Wallahi. Meskipun ada ups and downs yang membuat aku harusnya merana, but then I have SOMETHING bigger than my condition itself. Ya kau taulah jawabannya apa.”

Begitulah kira-kira jawaban saya ke dia yang sedang sangat kepo apakah saya benar-benar bahagia atau tidak. It’s not my family, my best friends, my job, myself or even my takdir in Islam that makes me feel contentment in life, but that’s because of Allah Ta’ala is my Rabb. That is my BIGGEST happiness.

He knows best, He knows best.

2 tanggapan untuk “Ngobrolin: Anta, Kau Bahagia Ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s