Sebuah Kompetisi [Tak] Normal

Ada sebuah kompetisi yang cukup menarik tetapi tidak senormal kompetisi-kompetisi yang kita ketahui pada umumnya. Kompetisi dimana kau tidak perlu menjadi yang terbaik namun kau telah menjadi pemenang. Dan lagi, pemenang dari kompetisi ini pun tidak hanya seorang. Bisa saja banyak, banyak sekali pun bisa. Bahkan termasuk kau pun bisa.

Apa kira-kira pencapaiannya sehingga tak perlu harus menjadi yang terbaik, tidak pula harus menjadi yang terdepan? dan tidak juga harus yang terpintar (paling berilmu)? Jika kau bisa bayangkan dirimu adalah salah satu atlet lari dalam kompetisi Sprint maka tepat pada langkah kakimu yang pertama menginjakkan arena lari, setelah peluit berbunyi, kau sudah menjadi juara, tak peduli sejauh mana perbedaan jarak antara kau dan pelari lain, yang lebih dulu mendekati garis finish. Sekarang pertanyaannya, apa ada kompetisi sejenis ini?

Ada. Sebagaimana dirimu yang saat ini masih berada pada jalur lari yang kita sebut kehidupan, tapi jalur itu khusus hanya milikmu, tidak untuk berbagi dengan yang lain. Setiap kita punya jalur masing-masing. Maka otomatis, sejauh apapun jarak yang kau tempuh, tetap kau pemenang tunggalnya. Tidak satupun yang kau dahului atau yang mendahuluimu.

Berbeda saat kau mulai merapatkan dan menyamakan jalurmu dengan pelari lain. Kini kau saling berlomba dan sekuat apapun kau berlari, jelas akan ada yang berlari didepanmu. Dan kau mulai melihat satu persatu dari mereka, silih berganti mendahuluimu tanpa persetujuan.

Dua kondisi diatas bisa saja terjadi disaat bersamaan dalam kehidupan kita. Tapi harus ada yang difokuskan. Terus berlari dalam jalur yang kau miliki sendiri dengan penyadaran diri yang bersar bahwa kau hanya bisa dibandingkan dengan dirimu yang lalu, atau kau terus menerus merusak dirimu dengan berlomba ingin menjadi yang terbaik dari orang lain, yang ujungnya tetap kau tidak akan pernah bisa menjadi yang terbaik, karena kau tau ‘diatas langit masih ada langit’.

Coba pikirkan, bagaimana rasanya jika orang tuamu sekarang membandingkan kesuksesanmu dengan anak tetangga yang dirasanya lebih sukses darimu? Disebutkanlah kau anak yang tidak punya pencapaian apa-apa. Sakit yang tak berdarah bukan? Padahal kau telah usahakan yang terbaik dengan seluruh jiwa dan ragamu hingga menjadi yang sekarang. Sayangnya kau tidak sadar, dirimu sendiripun telah lebih dulu melakukan itu, tanpa kau rasakan sakitnya, saking kau fokus pada apa yang sudah didapatkan oleh orang lain.

Ihdinashshiraatol mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus).

Kalimat yang kita ucapkan minimal 17 kali sehari ini mengandung makna yang begitu dalam sehingga saya sendiripun rasanya telah lama tertidur. Kalimat inilah yang menginspirasi cerita saya yang diatas.

Kalimat ini juga mengajarkan kita bahwa kemenangan bukanlah pada garis finish, tetapi pada jalur kompetisi itu sendiri. Apakah kita sekarang berada pada jalur atau tidak, itu yang menentukan label juara pada diri.

Meskipun dunia menunjukkan apa-apa yang didapat pada pengakhiran, percayalah bahwa ada yang melihat seberapa mati-matian-nya dirimu melewati masa-masa sulit. Saat kau harus melawan hawa nafsu yang mencoba membudakimu, saat kau benar-benar tertatih dengan segumpalan besar kemalasan dipunakmu ketika seruan kepada Allah Ta’ala berkumandang, saat kau harus menaham amarahmu dan menggantikannya dengan senyuman terindah, dan saat kau harus menahan air matamu yang hanya tepat dicurahkan disaat kesendirianmu. Ingatlah bahwa semua itu jauh lebih baik dihadapan Rabbmu.

Tujuan kita adalah husnul khatimah, dan satu-satunya cara untuk berakhir dengan yang terbaik adalah tetap berada pada jalur saat ‘akhir’ menjeput.

Nah, sekarang sejauh apapun kau kini menyimpang dari jalur, cobalah setir ulang hidupmu dengan mengarahkannya ke arah yang tepat sampai kau benar-benar berada dijalur. Pastikan bahwa kau akan terus menerus tetap pada jalur. Lambat atau cepat, tidak masalah yang penting kau masih dalam jalur. Kau masih dalam jalur.

8 tanggapan untuk “Sebuah Kompetisi [Tak] Normal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s