Sebuah Kompetisi [Tak] Normal

Ada sebuah kompetisi yang cukup menarik tetapi tidak senormal kompetisi-kompetisi yang kita ketahui pada umumnya. Kompetisi dimana kau tidak perlu menjadi yang terbaik namun kau telah menjadi pemenang. Dan lagi, pemenang dari kompetisi ini pun tidak hanya seorang. Bisa saja banyak, banyak sekali pun bisa. Bahkan termasuk kau pun bisa.

Apa kira-kira pencapaiannya sehingga tak perlu harus menjadi yang terbaik, tidak pula harus menjadi yang terdepan? dan tidak juga harus yang terpintar (paling berilmu)? Jika kau bisa bayangkan dirimu adalah salah satu atlet lari dalam kompetisi Sprint maka tepat pada langkah kakimu yang pertama menginjakkan arena lari, setelah peluit berbunyi, kau sudah menjadi juara, tak peduli sejauh mana perbedaan jarak antara kau dan pelari lain, yang lebih dulu mendekati garis finish. Sekarang pertanyaannya, apa ada kompetisi sejenis ini?

Lanjutkan membaca “Sebuah Kompetisi [Tak] Normal”
Iklan

Trilogi Ibnul Qayyim

Ternyata baca buku itu asyik lho. Saya kadang masih suka ngebatin “Kenapa baru sekarang Anta, kenapa, kenapa, kenapaaa?” Padahal ya gak masalah kok. Semua hal, kapan aja bisa dimulai, asalkan gigih ya kan? Meskipun seperti melukis di atas air, tapi sekeras batu aja bisa penyok gegara air yang menetes sedikit demi sedikit secara berulang-ulang. Jadi gak ada excuses sebenarnya.

So, saya kemarin ketemu beberapa halaman dari lembaran buku yang saya pegang. Isinya saya rasa sangat menggugah, alias penting. Cuplikan tersebut adalah tulisan dari Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ tentang tiga terpenting dalam mejalani kehidupan ini. Setelah saya baca, saya sangat terdorong untuk semakin produktif dan optimis karena merasa tercerahkan, seperti wajah yang berseri-seri, indah kan? udah gitu kalau kita bisa meresapinya sampai kedalam jiwa, batin pun berseri bahagia, gak percaya? coba baca ya. Lanjutkan membaca “Trilogi Ibnul Qayyim”

Loving People You Can’t Have

Saya sejujurnya kurang begitu mengetahui seberapa sering seseorang jatuh pada we fall in love with people we can’t have di gaulnya anak muda jaman sekarang. Cuma pas baca ada tulisan yang membahas ini dengan sudut pandang lain, saya tuh rada-rada kaget dengan isinya. Kenapa? This story will tell you why dan karena ada menyinggung kejomblo-jombloan segala, saya pun sok merasa terpanggil. Ya iya karena saya juga masih jomblo, jadi mungkin relatable. Iya gak ya? Jadi saya menulis ini hanya ingin membandingkan persepsi satu dengan yang lain saja.

Saya tuh pas baca pertama kali we fall in love with people we can’t have dan coba mengartikan sendiri nih kayak: hmm dia pasti jatuh cinta sama pacar/suami orang kali ya atau dia kejebak sama cinta yang hampir mustahil terjadi di dunia nyata, kayak di drakor-drakor, si kaya jatuh cinta sama si miskin, ya mentok jadi stalker sejati di dunia maya, atau jatuh cinta sama sahabat, sama bos, sama tetangga, sama kakak senior, apalagi yang mustahil ya? Atau sama siapa aja yang gak mungkin bisa bersama. Pokoknya yang kira-kira mustahil menurutmu, itu juga boleh masuk kategori disini.

Lanjutkan membaca “Loving People You Can’t Have”