Resolusi 2019: Si Gadis Anak Rumahan

Okay, tahun 2018 hitungan jam dari sekarang akan menjadi masa lalu. Penting atau enggaknya resolusi pergantian tahun, hampir kita semua sadar atau tidak, mengharapkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dan mungkin itu juga kenapa kebanyakan orang membuat resolusi, sebagai bentuk optimisme dengan tahun berikutnya. Ya meskipun sebenarnya, setiap hari juga bisa buat resolusi, sekaligus introspeksi diri, kayak kita ngerefleksi diri setiap malam apa-apa aja yang udah kita lakukan dan apa-apa aja yang harus ditingkatnya kedepannya, dan bisa dibantu dengan membuat to-do-list, ini salah satu menegement waktu yang cerdas, kalau kamu malas buatnya karena kamu mikir “toh gak terceklist juga!”, coba pikir kayak gini: pakai to-do-list aja gak terlaksana konon lagi gak pakai.

Saya punya catatan khusus pribadi yang isinya tentang planning hidup, list-list mimpi, daily or monthly accomplished, wild-dreams or anything possible yang bisa ditulis tapi sangat privasi. Sebangsa diary tapi saya lebih suka menyebutnya journal, karena isinya gak cuma tentang curahan hati, jauh lebih advance, juga termasuk kesalahan-kesalahan diri sendiri yang esoknya perlu diperbaiki yang cukup sangat privasi pastinya. Nah ini sangat membantu dalam memaksimal waktu yang saya punya.

Ngomongin resolusi tahunan, ini sebenarnya adalah bentuk goal jangka panjang untuk sebagian orang. Tapi saya masih menganggap satu tahun itu target jangka pendek sih, tapi kalau kamu suka, kamu bebas buat goal per satu, tiga atau lima tahun sekali, nah kalau saya pertahunnya biasa digunain untuk review atau set ulang goals-goals yang lalu, kali aja ada yang gak relevan dan gak nyambung seiring bertambahnya usia dan matangnya pola pikir. Karena satu tahun itu kan lama ya, saya yakin kalau kamu concern dengan perkembangan cara pandang dan prinsip hidup kamu, pasti ada aja sih yang berubah.

Selain saya ingin menuliskan headlines resolusi untuk 2019, saya ingin review dulu highlights tahun 2018 kemarin, judulnya: Rsolusi 2018: Si Gadis Mantan Anak Perantauan, tapi tetap menginspirasi judul resolusi kali ini. Resolusi 2019: Si Gadis Anak Rumahan. Mungkin tahun depan jadinya kayak gini: Resolusi 2020: Si Gadis yang Tak Gadis Lagi wkwk. In a good way ya.

Ok baiklah, di resolusi kali ini, saya mau mengkritisi diri saya yang satu tahun lalu, dari tulisan Resolusi: 2018 Si Gadis Mantan Anak Perantauan, boleh dibaca dulu monggo silakan. Udah? Okay, here we go!

1. Saya sudah tidak pakai kata “aku” lagi kalau nulis di blog, cuma kalau di personal chat, kolom komentar, Twitter saya masih pakai aku. Dan kalau ngomong sehari-hari juga masih pakai aku, kecuali kalau ketemu orang baru dan sama yang lebih tua, saya biasa menyebut nama saya.

2. Berpikir kalau aktualisasi mimpi hanya bisa di lakukan di kota besar. Ya ampun Nta, se-hopeless itu kah kau dulu haha. Saya wajar sih sama diri saya yang dulu, tuh anak terlalu berekspektasi yang tinggi banget pasca kuliah karena planning buat balik ke kampung emang gak ada, kayak se-sudden itu. Namanya juga anak perantauan, pantang pulang kalau gak sukses, tapi keluarga saya punya perspektif lain soal itu. And that makes me fall in love with my family over and over again (percayalah ini hanya pencitraan).

3. Saya tulis di resolusi sebelumnya, kalau orang tua saya gak ambil pusing soal kerjaan saya, faktanya mereka justru sangat memusingkan saya sekali wkwk. Iya awal-awalnya gitu supaya mau pulang, eh ujungnya huahaha. Saya berprinsip kalau gak mau kerja sebagai PNS, jika hanya dua pilihan, dibanding PNS saya lebih memilih menjadi budak korporat. Nah orang tua saya tidak setuju, menurut mereka tetap PNS lah satu-satunya mata pencaharian yang menjamin kesejahteraan hidup. Padahal mereka bukan PNS loh. Akhirnya tanpa tapi-tapi supaya mereka senang dan bom pun tidak jadi meledak, saya tetap ikut tes, dan akhirnya gagal. Alhamdulillah. Gak tau kalau nanti, bisa jadi doa orang tua saya lebih dulu mengentuk pintu langit. Allahu’alam. Tapi saya kekeh mau jadi yang lain.

4. Siapa bilang memulai bisnis itu gampang? ada, saya satu tahun lalu wkwk, dan dia baru sadar kalau itu semua gak semudah kayak menuliskan cita-cita, ingin menjadi pembisnis. Ahhh I don’t know tapi saya gak mau menyerah. Intinya:

Dear myself, kamu harus lebih giat lagi. Tolong dikurang-kurangi gengsiannya ya. Kamu pasti bisa!

6. Makin dekat dengan keluarga dan disayang siblings. Mungkin ini waktu itu lebih seperti cita-cita ya, soalnya postingan itu sebulan setelah saya dirumah. Kayak sebulan, untuk semakin dicintai itu hampir mustahil. Anak perantauan yang bertahun-tahun hidup sendiri trus sekonyong-konyong jadi anak rumahan, berat gengs berat. You have no idea. Dari yang karakter individualis udah mendarang daging, harus sedetik berubah jadi sosialis. Itu kayak pengin lari detik itu juga. “Yaudah, besok Anta balik ke Medan aja!” paling sering keluar di tiga bulan pertama sampai saya sadar saya yang harus lebih banyak mecoba memahami situasi dan tidak boleh egois. Akhirnya saling sayang itu tercipta yeayy! Gak tega euy nanti kalau S2 ninggalin mereka huhu.

Jadi apa ya resolusi saya tahun 2019? Sebenarnya gak banyak sih, tapi gak jauh-jauh dari ingin menjadi muslimah yang ideal, lengkapnya resolusi saya itu ada di buku The Ideal Muslimah yang ditulis oleh DR. Muhammad Ali Al-Hasyimi. Hah itu kurang lebih resolusi saya sampai mati haha.

Dan yang penting saya masih mau fokus pendekatan dengan keluarga dan melanjutkan perbaikan citra saya di mata orang tua. Karena satu tahun belum cukup memuaskan mereka yang sudah sepuluh tahun jauh dari saya.

So kira-kira headline resolusi saya tahun ini adalah buku The Ideal Muslimah. Milestone-nya gak perlu saya share ya, karena gak terlalu penting juga dibaca orang lain haha. Sukses untuk kita semua kedepannya. Semoga kita terus memperbaiki diri kita untuk menjadi pribadi yang baik, berakhlak dan berilmu. See you next year insyaAllah.

Iklan

8 tanggapan untuk “Resolusi 2019: Si Gadis Anak Rumahan

  1. Kok sama ya, orang tua saya juga pengen anaknya jadi PNS.
    Tapi saya tetep kekeuh gak mau daftar.
    Finally, ibuk saya bilang, “Yo wis nek ra seneng dadi PNS. Sik penting koe tanggung jawab karo pilihan hidupmu.”

    Disukai oleh 1 orang

    1. Punya saya sederhana aja mba, awalnya saya rasa juga “gagal” karna saya gak konsisten, tapi lama-lama saya gak masalah kalau to-do-list nya gak setiap hari, sampai akhirnya saya bisa betul-betul konsisten, walaupun hari libur saya kadang juga gak buat haha šŸ˜‚

      Iya mba saya setuju hidup kita memang harus teratur. Mba bisa mulai dari target atau goal mba boleh mulai perbulan, terus dicicil perharinya. Atau bisa juga mba buat ketika malam, pas besoknya mau ngapain aja, supaya gak lupa, kalau menurut saya begitu.

      Terus jurnal atau bukunya gak harus bagus-bagus dan gak harus dipenuhi dengan gambar-gambar yang kayak biasa kita lihat di internet, mulai dari yang sederhana aja mba.

      Kalau saya, sekarang goals-goalsnya di buku gitu. Tapi to-do-list nya saya buat di HP. Pas mau buat to-do-list saya check jurnal saya biar sesuai daily activities saya dengan goal yang setiap bulannya saya buat.

      Yang terpentingkan mba, ketika kita rasa “kok gini ya? Kok gagal ya?” Coba lagi aja mba, itu cuma krna diri kita belum terbiasa aja. Selamat mencoba ya mba šŸ˜‚šŸ™

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s