Kita Tidak Lebih Baik dari Siapapun

Kalau saya boleh memastikan perihal dalam diri seseorang, pasti ada minimal satu dari dirinya yang tidak ia sukai. Saya ada banyak sebenarnya, bukan karena saya tidak mencintai diri saya sendiri, justru karena saya cinta, saya tidak ingin beberapa hal itu selamanya ada di saya, terutama untuk character (inside) ya, kalau look/appearance (outside) udah ditakdirkan kayak begini ya saya lepas tangan dan bersyukur. Sudah ciptaan yang paling sempurna soalnya. Hidung pesek kan udah takdir ya?

Siapa disini yang tidak pernah merasa baik? mudah-mudahan gak ada. Saya yakin semua orang pasti pernah berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, so tentu bisa dipertimbangkan baik. Lalu siapa disini yang tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain? Nah kalau ini saya jawabnya pengin langsung “Sayaaaaa!” tapi kenyataannya enggak. Ini nih saya tuh pengin ngelepas jauh-jauh. Yang seperti ini dipelihara bakalan gak bagus nantinya. Kalau saya merasa lebih baik dari saya yang sebelumnya, itu baik karena saya sendiri objek pembandingnya. Jadi sangat memotivasi untuk perubahan. Fokus dengan kondisi diri yang masih perlu banyak perbaikan. Tapi kalau sudah sok merasa lebih baik dari orang lain gimana itu?

Bahkan dengan seorang pembunuh sekali pun, kita harusnya tidak merasa lebih baik dari dia. Kalau saya pikir sih begitu. Ada segunung aib kita yang belum ketahuan aja. Kalau misalnya ada yang bilang: “Dia dulu jahat, makanya sekarang hidupnya kayak begini!” lantas kita langsung percaya gitu? lalu kita ikutan nge-judge? Sebenarnya orang itu sedang atau tidak dalam yang-kita-sebut hukuman hidup, emangnya kita tahu darimana? Kalau terlihat seperti itu adanya, apa yang kita lakukan benar, seakan orang tersebut tidak ada lagi kesempatan berubah?

Yang saya rasakan, ketika saya merasa lebih baik dari orang lain, saya memang senang huahaha, karena saya punya hal yang ia tidak punya. Case di saya seperti ini: sering sekali terjadi ketika teman saya terdengar tidak suka dengan saya karena hal-hal yang bersifat prestatif, atau karena gaya pergaulan saya yang ekspresif. Ada juga yang karena saya terlalu menjadi diri sendiri (tabiat yang kelewatbatas). Sehingga banyak komentar-komentar dari luar yang masuk kalau gak bisa difilter jadinya seperti saya, nangis sesunggukan, waktu itu sih udah lama-lama, dulu lah. Cara saya memotivasi diri adalah “You know what? I am just better than you”.

Satu sisi ada nilai baik untuk pertahanan diri agar tidak terlalu termakan omongan mereka. Tapi fatalnya apa coba? yang terjadi di saya ya, saya jadi terlalu sombong dan percaya diri sampai-sampai saya lupa untuk improve diri, sehingga saya mentok gitu aja, gak ada peningkatan saking terlalu pedenya better dari orang lain. Saking karena kita sudah ngerasa expert dan punya kemampuan lebih, kita gak mau belajar dari siapapun, atau setidaknya belajar lebih banyak dari sebelumnya. Ngerasa puas gitu aja.

Sama nih kayak pas SMA, sekolah saya ada sistem “the best ten”, jadi pas bagi rapot, 10 orang nilai tertinggi akan dipanggil di depan semua warga sekolah dan itu rasanya senang bukan main sampai tingkat dewa, bangga parah. Beberapa kali diawal saya masuk list, eh makin kebelakang saya tercampak dari barisan tadi. Sakitnya tuh sama kayak dibilang jomblo gak laku wkwk (padahal kan gak gitu ya, jomblo mah lifestyle haha). Terus saya mikir kok nasib saya gini amat ya, belajar kayak biasa kok bisa menurun rangking-nya, nilai juga gak nurun, asli gak ada yang salah. Eh rupanya dapat ilham kalau ternyata, teman-teman saya yang lain belajarnya extra, dan akhirnya nilainya pun ikut naik. Saya emang gak turun, cenderung tetap, tapi teman yang lain pada speed up, kenceng banget, jadinya saya ketinggalan. Di selip deh.

Mungkin karena saya terlalu melihat teman-teman yang nilainya dibawah, yang sering remedial dan yang masuk kelas clinic dan kelas ICU, terus rasa sok lebih pintarnya mendominasi, jadi ya sok santai, gak sadar kalau diri sendiri sebenarnya juga harus banyak belajar. Ujung-ujungnya disalip sama teman yang lain. Ngeri cuy kalau yang kayak gini saya pertahankan. Gak maju-maju kan ya?

Akhirnya saya memilih untuk menjadi wadah kosong siap menampung air yang banyak, tapi setiap hari harus dibersihkan dari kotoran-kotoran. Saya tidak boleh berpikir kalau isi dari wadah ini bersih dan steril apalagi bisa sampai penuh. Wadah yang kita punya adalah wadah ajaib yang tidak pernah penuh, long life education yang justru karena berpikir seperti ini kita akan terus menerus mengisinya. Anggap kalau wadah air ini tidak luput dari bakteri, virus penyakit, jentik-jentik nyamuk, kotoran burung, dedaunan yang kering, kecebong atau krikil nyasar (bisa ya haha). Nah makanya harus dibersihkan setiap hari dengan cara introspeksi diri dan update ilmu.

Tapi kadang si dia “I am better than you” suka muncul khusunya di era sosial media kayak sekarang ini. Ini udah agak beda lagi kasusnya ya. Jangan sempet kita mikir teman kita yang gak sering update terus hidupnya langsung kita anggap tidak lebih baik dari kita yang sering update dan selalu punya topik baru untuk di share, BIG NO NO. Atau karena postingannya udah beda dari biasa, di judge ini-itu hmm. Kita jangan sampai mikir update di media sosial tanda kalau hidup kita lebih baik dari orang lain, NOOOOO! (Jangan-jangan saya yang mikir kayak gini, kabur ahhh).

Terakhir. Kalau kita berpikir lebih baik dari orang lain, itu artinya kita gak ada bedanya dengan Syetan. Syetan tidak mematuhi perintah untuk sujud kepada Adam ‘alaihissalam hanya karena ia pikir, tercipta dari api jauh lebih baik dari tanah. Diapun merasa sombong sampai tidak ada rasa menyesal dan ingin bertaubat apalagi belajar dari kesalahan. Sementara Adam ‘alaihissalam ketika berbuat salah ia menyadari kesalahan dan langsung memohon ampun. Syetan malah meminta satu permohonan terakhir yang bukan untuk kebaikan dirinya, melainkan untuk membenarkan perbuatannya dengan bersumpah akan menyesatkan banyak orang sebagaimana dirinya.

Jadi, jangan sampai kita mewarisi sifat-sifat buruk dari Syetan yang membuat kita merugi dan lupa memperbaiki diri. Semoga kita senantiasa tidak melihat rendah orang lain, tidak menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, dan terus merasa perlu upgrade diri, agar kita terlepas dari rasa sombong sampai pada waktu dimana tidak pernah ada lagi rasa sombong didalam hati manusia.

So begitu, cocoknya kam rasa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s