Story of A Sweet Woman: WordPress and Goodbye 2018

Alhamdulillah kita telah sampai dipenghujung tahun, genap satu tahun sudah sejak saya menjadi anak rumahan dan mengisi waktu luang dengan menulis di blog. Walaupun masih terbilang pendatang baru, saya sudah merasa menjadi anak lama karena keseringan posting wkwk, karena teman-teman blog yang ramah dan baik hati. Khususnya teman-teman pengguna WordPress App, yang cukup setia membaca tulisan saya, meskipun saya tau ada banyak yang gak sengaja kepencet pas lagi scrolling, gakpapa makasih untuk bonus satu view-nya ya.

Sebelum itu, saya mau kasih tau sedikit kalau Story of A Sweet Woman adalah judul series khusus postingan tentang ekspresi “baper” perjalanan saya di dunia blog. Jadi bukan maksud apa-apa dan saya memang sengaja pakai tagline blog ini sebagai judul.

So, it’s been a year of me struggling and writing is one of supporting tools in getting to know who I really am, what I want and why I am created for. Saya belajar menjadi tulus dengan menulis. Saya belajar ikhlas melalui menulis. Saya belajar menerima masa lalu dan mencoba berdamai, dan letting go off things juga dari menulis. Dan yang paling romantis, saya bisa jatuh cinta juga karena menulis. Satu tahun aja udah rempong ya lika-likunya. I don’t know maybe I am just too baper about writing, karena hampir semua tulisan saya yang cepat selesai dan di publish adalah hasil dari curahan hati, ditulis jam sebelas lewat malam, yang mengalir begitu aja.

Saya gak tau mau mencurahkan rasa terima kasih saya kepada siapa (kalau Allah SWT udah duluan diatas kan ya), karena memang terlalu banyak, untuk semua inspirasi dalam tulisan saya, untuk semua dukungan, untuk semua kritik dan saran hingga saya masih semangat menulis sampai sekarang. Yang awalnya saya begitu pesimis, karena gak pernah dan gak bisa nulis.

Saya sadar bahwa setiap orang berpendapat, tidak semua orang boleh setuju. Sama halnya setiap baris kata yang saya tulis, tidak semua baik, dan belum tentu bisa menjadi hitungan pahala atau malah semakin memberatkan dosa saya. Saya kurang tau apakah semua yang menulis punya concern yang sama: jenis content apa yang ia tulis bisa bermanfaat untuk orang lain dengan memikirkan output dari tulisan mereka atau sekedar iseng atau seru-seruan.

Jujur untuk sejauh ini saya masih dekat garis start dari kata bermanfaat, apalagi bisa menjadi jalan seseorang mendapatkan hidayah. Tapi sebenarnya tujuan saya menulis adalah untuk itu (insyaAllah), semoga saya tetap istiqomah ya dan selemah-lemah cita-cita adalah yang ia punya goal untuk mencapainya meskipun action-nya tidak banyak. Saya pikir begitu, iya gak? Salah ya, yaudah.

Goodbye 2018

Menulis itu perlu ilmu, nah ini saya agak berat kalau nulis soal ilmu soalnya saya miskin ilmu (saya mau bilang fakir tadi, tapi pas dipikir-pikir saya masih bisa perkalian satu sampai sepuluh diluar kepala). Terus saya kemarin juga kebaca tulisan salah satu Ustadz yang saya follow di Instagram: kalau sudah mau mulai menyerukan kebaikan, dasar ilmunya harus diperbaiki dulu. Maka kalau saya ini ada aneh-anehnya sudah pasti ya saudara-saudara, saya lagi proses pembelajaran dan saya butuh ditegur. Tapi tegur dengan sebaik-baik teguran yaa.

Emang bener, kalau perubahan gak bisa dilihat dalam waktu yang singkat. Terhitung sejak Juli, saya mulai memantau perubahan gaya kepenulisan saya. Walaupun saya rasa hampir sama saja, tapi setidaknya tidak bisa menyangkal kalau dalam menulis, saya semakin terarah (insyaAllah kearah yang positif). Menulis terbilang sudah menjadi hobi saya. Bagitupun saya masih belum menemukan alasan menulis yang spesifik selain ingin meyumbangkan pemikiran atau sekedar mengisi waktu luang saja.

Pesan saya untuk teman-teman yang baru mulai menulis seperti saya, yang kadang-kadang bingung mau nulis apa, mulai dari mana, bagus atau enggak tulisannya, jangan patahkan semangatmu kawan, kalau niat mu murni Lillah semua akan dipermudahkan Allaah, cuma gak cepet, Allaah uji kita dulu, baru insyaAllah lama-lama bakal dimudahkan kok nulisnya. Atau bahasanya kita, kita latihan terus menulis, bersusah payah dulu, trial error dulu, pasti lama-lama terbiasa. Begitu gak guys?

Satu kata untuk 2018? apa ya? ‘terlahir kembali” kayaknya. Eh itu dua kata ya? yaudah gakpapa. Iya, jadi saya merasa sedang terlahir kembali dengan segala prinsip hidup baru yang saya punya. Intinya saya cuma pengin yang saya lakukan bermanfaat untuk orang lain dan another source of happiness nih ya, be the service of others is one of way to lead us successful and continuously happy. Nah pastinya gak mau terlewat yang ini kan?

Nah, tinggal menghitung hari aja nih 2018 akan menjadi sejarah. Baik atau buruk, kita haru sikapi dengan bijak. Kalau baik kita harus tingkatkan, kalau buruk kita harus lupakan dan mengambil pelajaran. Sukses kedepannya dunia dan akhirat untuk kita semua, semoga kita tetap istiqomah, amiin.

Iklan

10 respons untuk ‘Story of A Sweet Woman: WordPress and Goodbye 2018

  1. Waaaa dirimu meski dibilang baru di wordpress, tapi sudah rame juga ya blognya 🙂

    naaaah, menulis untuk setiap orang kadang memiliki maksud yang berbeda sih. ada yang untuk menyebar kebaikan, menuangkan uneg-uneg, menyampaikan pendapat, dan lain-lainnya. Apapun itu, ya sah. Lhawong bebas juga kok heheh.

    Semoga di tahun 2019 nanti, ngeblognya makin rutin-rutin yaaaaaa 😀 saya mau sering ngunjungin ah~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s