Ngobrolin: Kehadiran Nussa ditengah Keblackpink-blackpink(an)

Entah sejak kapan booming-nya Blackpink dan sampai sekarang, saya masih getol gak mau peduli semempesona apa Girl Band asal Korea ini, sampai-sampai anak murid saya bingung dan nanya, “Lho kok Miss gak suka Blackpink?” Sebenarnya bukan karena saya terus menerus bilang, saya kesal dan tidak senang tiap kali anak-anak nyanyi dan memperagakan gaya ala-ala dance Dududu, tapi karena bermula dari keingintahuan mereka siapa kira-kira personel Blankpink yang menjadi favorit saya. Saya memang ketus jawabnya “Ya gak ada-lah!” lalu kemudian “Kenapa Miss?”

“Kan cantik Miss?” Dalam benak saya, ini anak-anak yaAllah, apa gak ada yang ngajarin ya hush, apa gak kesel yakan, atau cuma saya aja yang kesel. Hmm kira-kira beginilah hebohnya seantero negeri denga isu bau-bau Korea ala-ala Girl Band. Kayak dulu sempat ramai juga kakak-kakaknya Blackpink, nama grupnya SNSD atau Girl Generation. Waktu itu saya masih di asrama, jadi tidak benar-benar melihat reaksi masyarakat khususnya anak-anak kecil. Justru posisinya waktu itu saya sedang di usia rentan menjadi korban kefanatismean terhadap wanita-wanita “cantik dan seksi” ini.

Kembali lagi ke topik yang diatas, dari pertanyaan anak-anak tadi aja saya sudah geram, seakan Blackpink adalah sosok-sosok ideal yang harus diidolakan, seakan Blackpink dan semua yang senada, harus selebar-lebarnya diberi ruang publik dan pentas mewah dan megah, berbagai pujian, teriakan dan applause yang meriah, seakan Blackpink tidak lagi ada celah untuk tidak disukai.

Mungkin sebelumnya si kembar Jenner yang menduduki tingkat tertinggi yang paling banyak diikuti style dan gaya hidupnya. Tapi saya pikir ini tidak sampai keranah anak-anak, sensasi mereka hanya sampai pada usia remaja yang baru-baru gede, mungkin juga karena isu mereka bawa adalah dunia fashion. Bedanya dengan Blackpink, mereka muncul lewat dunia musik yang semakin didengar semakin minta didengar lagi dan lagi. Dan kita tahu, lagu mana yang enggak diganyang sama orang Indonesia? apalagi anak-anak? Parahnya lagi, video parodi anak-anak yang viral meragakan gaya Blackpink ditonton hampir seluruh warganet, udah kayak bumbu micin ini dah, semakin menguatkan kelompok ini terpaksa harus masuk kedunia anak-anak. Ini memang serius, karena hampir semua anak-anak sejak usia enam tahun sudah pegang gadget. Alhamdulillah anak saya belum, karena belum lahir, ntah gak tau kalau udah ada wkwk.

Tapi tahu gak? Allah sudah menciptakan dunia ini seimbang dan gak ada cacatnya. Anggaplah Nussa hadir bak ibu peri penyelamat dan beberapa tontonan anak-anak lainnya yang mendidik. Disaat bersamaan dengan maraknya keblackpink-blackpink(an) ada tontonan pembanding yang bisa mengambil perhatian anak-anak kembali ke dunia kecil mereka seperti yang ditampilkan oleh Nussa dan Rara. Jadi, hampir setiap hari kalau anak-anak minta nonton saya pasti kasih Nussa dan Rara, awal-awal perkenalan Nussa, ada beberapa yang kurang suka. Nah, kalau saya, saat anak-anak mulai gak suka atau bosan, saya coba memberi alasan mengapa boleh dan tidak boleh. Kalau saya udah gak tahan, saya suruh orang marahin haha. Tapi karena saya udah tekat dan dengan rayuan gombal-maut-meluluhlantakkan hati anak-anak, jadi lah mereka sekarang terbiasa, bahkan minta “Miss Nussa Miss ada episode terbaru!” waah seneng gak sih. Miss-Miss disini pun sepakat kalau akan memberikan tontonan yang baik-baik saja, tidak Mak Beti dan tidak juga Mael Lee Kaleng-Kaleng apalagi Blackpink, gitu.

Eh intermezzo aja ini ya, kalian tahu kan kucingnya Nussa dan Rara namanya Anta? hmm iya saya malu jadinya haha dikelas pas anak-anak pada nyadar. Dari mana pula ada muncul nama Anta? dan akhirnya saya tahu. Jadi nama-nama ketiga tokoh diambil dari Nusantara, Nussa, Anta dan Rara. Waah dari penokohannya aja udah niat banget, insyaAllah tanyangan Nussa bisa menjadi tontonan yang mendidik generasi bangsa sekaligus pemersatu kita semua ya.

Balik keparagraf sebelumnya. Jadi begini, anak-anak ini sebenarnya sangat mudah dipengaruhi, karena apa coba? karena mereka sadar mereka masih kecil, dan banyak lagi yang belum mereka ketahui, maka siapalah yang akan didengar dan dipercayanya? iya, orang yang lebih tua, khususnya orang tuanya, atau orang tua yang mendidiknya. Kalau sering melihat anak kecil, yang baik budi, murah senyum, cakap dan tanggap, suka menolong atau jika pernah melihat anak-anak yang berlawanan dengan yang saya sebutkan, percayalah itu semua karena didikan orang tua yang berada disekelilingnya. Beberapakali saya sempat terharu dengan keharmonisan orang tua dan anaknya, dan dilakukan pula oleh anaknya ke saya, yaAllah saya bapernya parah, lebih parah dari baper-baper biasalah. Luar biasa orang tua yang mendidik anaknya sampai cerdas begini, batin saya. Lambat laun, saya sadar, seperti yang banyak ditulis dalam buku-buku parenting, bahwa karakter anak terbentuk dari yang sering dilihat dan didengarnya dirumah.

Terakhir saya mau bilang, saya kurang tahu yang baca ini sekarang ada direntang usia yang mana. Kalau diusia 20an seperti saya, sudah pasti dunia anak harusya gak asing lagi untuk kita pelajari kan ya. Cuma yang penting gini sih kalau menurut saya, kita sebagai orang tua, pas depan anak kecil itu harus menjaga sikap, sebab kita secara tidak langsung mencontohkan kepada mereka melalui tingkah-tingkah kita. Yang jelas, meskipun menjadi lembut, sabar, baik hati, suka menolong dan rajin menabung bukan kita banget, kalau depan anak kecil emang harus dipaksain. Kayak saya aja ya, teman deket saya mungkin udah muntah-muntah dengerin saya ngomong sama anak kecil kayak gimana-gimana gitu, bukan Anta seperti biasanya. Seketika berubah menjadi baku, dan berbicarapun seperti melagukan kata, saya sendiri juga udah muntah-muntah duluan mendengar diri sendiri kayak gitu. Trust me, saya berusaha sampai setengah mati untuk bisa kayak gitu, karena seperti itu bukan tipe saya sekali, dulu ya. Untuk pertama kali, kayak “What am I doing? OMG!” tapi lama-lama gak canggung lagi meskipun belum terbiasa.

Ini benar-benar yang terakhir, mudah-mudahan karya-karya anak bangsa yang niatnya murni untuk memperbaiki generasi seperti Nussa dan yang lainnya, dapat diterima dengan gampang dan asyik oleh masyarakat Indonesia. Bukan sekedar hanya tontonan dan penghibur, tapi benar-benar kita tanamkan ke anak-anak kita, untuk mengamalkan ilmu yang disampaikan, melalui pengarahan pada anak-anak kita serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka, agar kelak menjadi anak bangsa yang teladan dan mampu membawa perubahan untuk masa depan Indonesia. Amiin.

Iklan

8 tanggapan untuk “Ngobrolin: Kehadiran Nussa ditengah Keblackpink-blackpink(an)

  1. Setuju mbakk. Aku sih suka kpok sebenrnya, tapi ya aku miris ternyata yang suka sampai ke ranah anak anak kecil, dan mereka nggak bisa filter kan, pada contoh baju bajunya sama joget jogetnya. Anak sodaraku ito lah, maunya pake rok macem Lisa, ya kan pahanya kemana mana. Sedihhh

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s