Ngobrolin: Menikah?

This is gonna be my wildest story ever wkwk. Ini beneran maksa di publish habis ngedate malming sama girls geng — Ah I don’t know! Saya mau bilang apalagi coba? cuma ai don’ no yang bisa saya bilang. Tapi itu dulu ketika saya kepikiran sesuatu yang berbau menikah. Baru-baru ini, persepsi saya soal menikah itu kayak gini: ‘ini perempuan kalau bahasannya soal menikah-menikah terus, pasti kebelet banget buat nikah!’.

Rasanya kalau kebelet itu kayak bermakna negatif gitu, kayak gimana gitu. Jadi, saya cenderung gak mau bahas itu-itu lagi, tapi wkwk diem-diem tetep nonton kajiannya haha. Eh makin kemari, dan ada korelasi juga sih dengan circle pertemanan, kayaknya gak harus separno itu kok kalau ngebahas soal menikah. Like really tho, saya gak tertarik dengan topik yang lebih dari separuh hidup saya, insyaAllah akan saya habiskan dalam pernikahan? Trus saya gak tertarik untuk bahas itu? Cewek macam apa saya ini!

If you ask me when I will? Of course, I have no answer for that, you know. Tapi, bukan berarti disitu hujan disitu nyari payungkan? Wkwk tapi kita emang seringnya begini ya haha! Maksudnya, tunggu ada jodoh atau tunggu nikah dulu baru dipelajari ilmunya? kan harusnya enggak begitu. Apapun butuh persiapan, apalagi kalau kita pengin itu semua berjalan lancar, mitigasi itu penting. Jangan sampai udah datang lagi tsunami baru ketahuan kalau alat pendeteksi tsunaminya udah gak fungsi lagi, hmm gimana itu ya? Gak nyambung yampun.

Nah, ngomong-ngomong soal menikah, pas saya lagi blogwalking di blog-blog favorit saya, saya ketemu dengan beberapa postingan yang super amazing. Saya udah pernah lihat judul-judul ini sebelumnya, karena saya pernah nge-scroll kebawah, tapi emang gak mau buka aja isinya, ya karna kan saya bilang parno tadi. Tapi sekarang beda, emang sih saya kemarin ada kepikiran, makanya pas lihat judul terakhir yang Part 6 tentang Proposal Nikah, hati saya: dug! ini dia haha!

Akhirnya saya bacain satu-satu dari Part 1 sampai Part 6 dengan pakai notes. Yes, literally take notes. I just don’t wanna miss anything, so. Karna gini loh, adik saya ini (si empunya blog, namanya Reni Anggraini, dia sering dipanggil Rere) beruntung banget bisa dapetin kuliah intim kayak gini. Saya gak tau ini bisa didapetin dimana, saya gak anak gaul soalnya, yang keren-keren gini kayaknya menjauh aja dari saya huhu. Tapi alhamdulillah tulisan adik saya ini, cukup membuat saya tidak patah semangat mencari ilmu. Okay deh, yuk mari saya bahas dengan sangat singkat dari yang saya baca.

Kalau mau baca mentahnya langsung dari si penulis, ini saya buatkan link dibawah ya: (Kalian harus follow dia beneran, dia mentor saya sekarang hoho!)

Part 1: Sekolah Calon Ibu
Part 2: Self Discovery
Part 3: Parenting
Part 4: Bersih-Bersih Diri
Part 5: Financial Planning
Part 6: Proposal Nikah

Yuk sini kalau mau nerusin cerita saya.

Okay, dan bukan kayak disamber petir gitu saya jadi tertarik soal menikah ini. Cuman persepsi saya aja yang saya ganti. Menikah bukan soal: okay besok saya mau nikah dan selamat menempuh hidup baru. Intinya bukan segampang ucapan samara dari orang-orang. Tapi soal nanti-nantinya itu yang ribet dan streessfull kalau kita gak ada persiapan dengan memperdalam ilmunya. Supaya apa, ya supaya baiklah. Gitu sih katanya, fakta dari saya gak tau deh soalnya saya belum menikah. Saya coba menyingkat dengan bahasa saya dari semua yang ditulis, menjadi beberapa paragraf dibawah ini. Sekolah Calon Ibu, begitu judul yang ditulis pemilik blog.

Sekolah Calon Ibu

Jadi saya akhirnya tau, mencari pasangan bukan hanya persoalan “aku suka dia, aku udah sayang dia, aku udah bertahun-tahun bareng dia, aku udah ini-itu sama dia” bukan. Tapi lebih pentingnya adalah menerima kalau calon pasangan punya sedikit baiknya dan banyak kurangannya. Bukan soal cocok saja disini, tetapi tentang siap dengan konsekuensi apapun jika sudah memilih bersama pasangan yang dipilih. Saya pikir kalau begitu, mestinya tidak ada kecewa kan ya? Bahkan se-shock apapun nanti ditemui hal awkward dari pasangan, tetap dia itu suami kamu loh, dia itu istri kamu loh. Hmm entahlah, sepertinya akan banyak sekali kekecewaan suami saya nantinya, hiks!

Belum lagi kita harus menyatukan dua keluarga, prinsip mengasuh anak, pembagian penghasilan, urusan paling menohok dengan mertua, belum lagi kalau perempuan ini banyak sekali tingkahnya, bilang iya maksud enggak, bilang enggak maksud iya, eh si laki-laki langsung percaya aja sama omongan yang keluar dari mulut, padahal gak maksud gitu. Trus dibilang deh gak respect. Ribet ya? engga dong! Asalkan cerdas bersikap. (Haha, jangan percaya saya, saya belum menikah haha).

Nah, lalu ada namanya self discovery. Semacam mengetahui diri kita ini bagaimana orangnya. Mulai dari cara belajar, kita ini tipe yang bagaimana, visual, auditori atau kinestetik. Kenapa harus tahu? jika menjadi orang tua, kita tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik sesuai dengan kecenderungan cara belajarnya. Lalu selain itu, perlu kita mengetahui tipe kepribadian diri: koleris, plegmatis, sanguinis atau melankolis. Ini ada quote menarik saya kutip dari isi blog “Kepribadian itu bisa diusahakan untuk berubah, kita bisa menaik-turunkan keempat kepribadian itu. Dalam suatu kondisi, kita bisa memilah untuk menggunakan yang mana. Ini bukan berarti kepribadian ganda.” Saya pun perlu belajar lebih dalam lagi soal ini, agar saya paham benar dimana kelemahnya saya, biar saya bisa meningkatkan kapasitas saya sebagai pasangan, dan jadi istriable gitu haha. Kayaknya perlu nanti saya dan suami saya (insyaAllah) pergi ke Psikolog untuk tes kepribadian kami berdua, hoho!

Setelahnya, adalah tentang Parenting. Cara bagaimana kelak kita akan mengasuh anak. Ternyata saya sering aplikasikan ini kalau di kelas, cuman istilah-istilah ini saya masih awam. Saya tak menyangka saya ini gak tau apa-apa. Apa yang saya cari selama ini yaAllah hiks! Okay, jadi Pola Asuh itu ada tiga: otoriter, permisif dan demokratis. Detailnya kamu bisa baca di Part ke 3.

Lalu masuk ke fase bersih-bersih diri. Kalau saya bisa bilang ini fase hijrah sih, meninggalkan semua kebiasaan yang buruk, memaafkan diri kerena sudah terlalu jauh bermaksiat, namun tetap optimis dengan masa depan yang cerah: bahwa Allah menjamin kebahagian yang hakiki (jannah) kalau kita terus berbenah diri. Terus harus bener-bener bisa mengontrol diri. Kita gak bisa mengontrol selain yang ada di diri kita. Misalnya, orang lain mau berkata apapun tentang kita, bahkan yang menyakitkan sekalipun, tetap yang bisa mengontrol harusnya bersikap dewasa dan bijaksana adalah diri sendiri. Biarkan mereka berkata apapun, saya mah anteng aja, begitu kira-kira.

And the last part is membuat Proposal Menikah. Isinya mulai dari komunikasi ranjang, proses ta’aruf, membuat proposal menikah yang isinya dari mulai data diri, visi-misi menikah, pola komunikasi, mengasuh anak hingga perencanaan keuangan. Baca bagian part terakhir ini sungguh ngekeh saya. Saya senyum-senyum dan ketawa geli sebenarnya. Kalau saya bahas disini pun saya gak kuat, lebih baik teman-teman langsung aja ke link yang saya sudah taruh diatas ya. Good luck yes wkwk.

Tulian-tulian diatas sangat-sangat recommended sekali untuk dibaca, terutama perempuan, enggak laki-laki juga, kamu juga harus tahu dong apa-apa yang harus calon istrimu ketahui. Nah, mau kamu udah siap atau enggak untuk menikah, kudu, wajib, harus baca. Setidaknya dengan mengetahui ini, kita sudah mengira-ngira seperti apa berumah tangga. Complicated tapi asyik kalau dijalaninnya berdua, ceile. Okay deh, saya siap-siap buat proposal dulu nih ya wkwk bye!

Iklan

10 tanggapan untuk “Ngobrolin: Menikah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s