Secangkir Hati (Alumunium Kehidupan)

Bicara tentang hati, saya tidak ingin sekali atau dua kali. Penginnya berkali-kali. Sama seperti curhat, maunya lagi dan lagi. Kira-kira seperti itulah jurnal ini, tidak lebih dari sebuah curahan hati seorang perempuan biasa.

Bicara soal cangkir, saya teringat cangkir di rumah saya yang sering saya pakai. Terkadang, kenapa lebih cenderung pakai cangkir yang tidak mudah pecah, karena saya tidak perlu khawatir kalau tiba-tiba tersenggol. Nah, cangkir ini biasanya saya isi dengan jenis minuman yang berbeda-beda. Boleh jadi air putih, jus, teh, susu dan sesekali jamu, oh kalau kopi jarang sekali. Jamu juga jarang sih wkwk.

Jika suatu waktu, saya ingin minum susu, saya pastikan sebelum membuat, cangkir saya sudah kosong dari jenis minuman apapun, bersih. Selain karena ingin higiene, saya ingin rasa susu tidak bercampur. Begitupun kalau saya ingin minum jenis minuman yang lain.

Kalau hati saya umpamakan sebagaimana cangkir, maka yang saya lakukan pun harusnya sama sebelum saya mengisinya dengan “hal lain”. Seperti cerita disebelumnya, bahwa saya ingin merawat hati saya dengan metode terbaik: dzikrullah (mengingat Allah), maka satu-satunya cara adalah dengan membersihkannya. Fokus saya hanya satu, Allah. Sulit? iya, karena masih banyak pertarungan di dalam hati ini. Tentunya, hal itu tidak semudah membersihkan cangkir dengan sabun pembersih ya. Tapi saya tidak boleh menyerah.

Seperti cangkir tadi, saya pun ingin hati saya tidak mudah retak dan pecah seperti sebelum-sebelumnya. Jadi penting sekali, hati saya perlu dijaga dan dirawat baik-baik. Kenapa hati harus dijaga ya? As our prophet Muhammad (saw) if we get the heart, we’ve got the whole body, means that actions follow from the heart. Semuanya berawal dari hati, the heart is the master of the body, and the heart is where we connect to Allah (swt).

Menjalani kehidupan yang kita pilih dan lakukan dalam perihal halal dan haram, adalah refleksi hati. Itu sebabnya hati perlu di training. Dan jangan lupa hati juga seperti tubuh kita yang perlu makan dan asupan gizi yang baik, teratur dan terjaga. Kebayang kalau kita makan hanya sekali sebulan? sama halnya seperti hati, dzikr minimal 5 kali sehari.

Saya berdoa semoga kita semua tetap menjaga hati, cinta seutuhnya hanya kepada Allah dan dengan itu pula, semoga Allah limpahkan kasih sayangnya yang tiada batas kepada kita sehingga kita tidak perlu berputus asa apalagi hilang harapan.

Iklan

14 respons untuk ‘Secangkir Hati (Alumunium Kehidupan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s