What Are We Attached To?

In life people constantly produce mistakes and we cannot deny. We are often times stumbled and misguided even no matter how hard we try to mitigate. Pain, broken and disappointment become our daily basis. But still we refrain ourselves to notice that something should not be right and we neglect to make a changes.

Have you ever wondered why those all the sadness seemingly could never been enough for making our life worse? Instead of there is a better life coming, we at the end, more likely feel unsatisfied even though we have got almost everything we wanted. Wealthy, status, relationship, good job, happy family and anything we can name it as our priority to set us free and happy, do not define anything possible that we want perfectly in life.

I do not necessarily try to explain you why is that happen. But there is one thing for sure that we consciously know that there is nothing in this world that ultimately forever. You know what I am saying. That is because the definition of this dunya (world) itself is temporary. So whatever it is we find inside of it will also be in a stipulated time. We have ourselves wrong to hold on to.

Lanjutkan membaca “What Are We Attached To?”

Iklan

Story of A Sweet Woman: Titik Balik

Lagi dan lagi, saya harus berkelahi dengan masalah yang itu-itu saja. Sampai saya menulis ini pun, yang terus merisaukan masih tentang media sosial. Dan saya rasa ada yang memang tidak beres dan tidak sehat disini. Iya disini, di WordPress ini.

Ini satu-satunya media yang saya pakai bisa mengekspresikan moody saya sampai lebih dari 3000 kata. Sampai sebanyak kata-kata yang ada pada setebal text book pun bisa. Sesuka hati pokoknya.

Hari ini saya mau ngomongnya mengalir begitu saja ya. Capek juga mikirin kata-kata yang begituanlah. Nulis itu capek sekali ternyata, pakai mikir soalnya. Selama ini, saya menulis tidak pakai mikir sih. Apalagi ilmu, cuman mengandalkan pengalaman aja. Itupun pengalamannya apalagi kesimpulan akhirnya, belum tentu universal, eh malah ngasal. Congkak sekali memang saya ini. Dan tanggungjawabnya adalah kalau orang sudah termakan konsep salah dari yang saya tulis, cemana pulak itu ah?

Sebenarnya ya gakpapa. Ya gak akan kenapa-kenapa, saya aja yang berlebihan kalau yang baca kenapa-napa, ya paling yang habis baca tulisan-tulisan saya, kesannya “Ini anak kenapa?” atau “Wah kita ke datangan sampah baru internet” atau pas baru baca paragraf awal “Apa sih?”.

Lanjutkan membaca “Story of A Sweet Woman: Titik Balik”

Ketulusan Hati

Sebagaimana perempuan pada umumnya, ia akan selalu punya cerita yang bisa dibagi setidaknya dengan teman curhatnya yang paling klop. Saya ini, salah satu yang menurut sahabat hati saya adalah teman paling seru kalau diajak curhat. Terharu saya haha. Padahal saya ini bukan tipe pendengar yang baik, malah pengennya didengerin terus, pengen dingertiin terus.

Jadi, ceritanya dia flashback dengan dirinya yang dulu. Dia sempat merasa yang dia lakukan itu benar, sampai dia sadar kalau yang diperjuangkan selama ini salah, mengecewakan sekali. Banyak yang dia lakukan semasa itu hanya untuk menarik perhatian seseorang. Saya mengambil kesimpulan, dia ingin menjadi orang yang sangat diinginkan oleh orang yang diinginkannya.

Lanjutkan membaca “Ketulusan Hati”

Bahagia #2

Saya masih belum percaya kalau, salah satu yang saya pengin dari dulu sejak kecil terjadi di dunia ini secara ajaib, magically, miracle ya rasa-rasa mustahil lah terjadi, akhirnya oh akhirnya alhamdulillah sejuta-juta-juta kali, Bapak finally mencoba berhenti merokok. Booom!!!

Saya ingat dulu pas masih SMP sekolah jauh dari orang tua, saya SMS Bapak yang isinya, kurang lebih tentang: sekian orang perharinya meninggal akibat rokok. Beliau malah tertawa dan serasa di doain anaknya cepat mati. Padahal maksud bukan seperti itu, dan saya yakin Bapak paham maksud saya.

Cuman beberapa hari ini, batin saya: kok tumben beli permen banyak-banyak ya? Udah dua hari kayak gitu terus. Sampai saya sadar kalau saya pernah baca, perokok bisa melatih menggantikan rokok dengan permen untuk mengurangi kecanduan. Oh ini dia, pikir saya.

Lanjutkan membaca “Bahagia #2”

Terbawa Arus

Semesta akhirnya membawa kabar tentangnya. Bukan lagi kabar angin. Sungguh itu benar-benar kabar.

Lurus yang bengkok, benar yang salah, tak senada, tak bisa beriringan

Begitupun, genggaman tangan tetap tak sadar menguat. Ada isak yang tak boleh pecah. Ada senyum yang tak boleh lepas.

Sebenarnya, disini menunggu pun tak ada. Ia sudah tidak membawa makna apa-apa. Mungkin terkikis oleh derasnya angin yang menerpa. Tak sanggup ia memikulnya.

Ada disini lebih baik, kata orang-orang. Disini sudah pasti lebih baik, ucap mereka sekali lagi. Memang bukan disini harapannya. Nyatanya, arus itu yang dipilihnya.

Kenangan bukan lagi yang terjunjung. Kesamaan dan kebersamaan kemarin, sudah mati ditelan air bah maha dahsyat.

Untuk apa dilihat lagi? Untuk apa dibahas lagi? Air mata tidak perlu mengering, biarkan mengalir semakin deras, habiskan semua rasa, habis sehabis-habisnya.

Selamat atas keistimewaan yang hina, selamat atas dambaan yang tak bertuan.

Being Anonymous

Just to warn y’all. I am gonna act a little bit kejaksel-jakselan. So please don’t get sick of that, okay?

Kadang, saya ingin setiap cerita yang saya tulis hanya untuk sebagai pelampiasan unek-unek saja, bukan untuk dibaca orang lain atau sampai bikin wadah khusus seperti ini. Hari ini bisa saja saya sangat bersemangat, besoknya saya lemas lagi. Jangankan menulis, yaAllah kamar pun tidak tersapu haha.

But then, banyak peristiwa yang akhirnya membawa saya pada konklusi bahwa ternyata itu bukan masalah, memang seperti itulah hati kita, dibolak balik.

Lanjutkan membaca “Being Anonymous”