Pasangan Idaman?

Saya sadar betul. Makin tua, semakin banyak yang berubah, termasuk semakin mendewasanya setiap topik yang diperbincangkan. Semakin mengarah kepada perihal yang bau-bau pernikahan. Kesalnya, saat saya tak sudi membahas, ada saja yang tanpa izin bertanya. Udah ada jodohmu dek?

Saya bukan muak. Tidak juga menghindar. Hanya ingin meminimalisir diskusi tentang cinta-cintaan tadi. Payah sekarang, terlalu banyak kode yang sudah berserakan. Bagusnya memang tidak perlu dibahas. Sama sekali.

Tapi kemarin siang, pembahasan seputar topik yang sama, justru lahir dari sudut pandang yang beda. Bukan lagi dan lagi tentang: udah di lamar? atau udah ada yang kerumah? atau gimana kabar dia sekarang? jauh dari pada itu, saya menemukan kemantapan diri atas kriteria-kriteria penting memilih seorang pasangan hidup.

Continue reading “Pasangan Idaman?”

Iklan

Kamu Tidak Bisa Dikritik?

Meskipun sejak lama saya menganggap diri seseorang yang cukup cuek dengan kalimat-kalimat negatif dari mulut banyak orang, yang mungkin tidak suka dengan saya, saya masih merasa perlu diejek, dikatai atau semacamnya agar, agar apa ya, agar-supaya, banyak hal sih bisa terjadi.

Saya kembali diingatkan dengan berbagai bahasa negatif yang mengarah kepada saya. Untuk rentang hampir setahun ini memang tidak banyak, karena sudah lumayan jauh dari perkumpulan-perkumpulan tertentu. Dan mungkin ini akan segera dimulai lagi, bersiap-siaplah Anta!

Terujung yang paling jauh saya ingat adalah ketika masih bersekolah menengah pertama. Karena sekolah hingga jenjang menengah atas di boarding school, konflik serupa sangat rentan terjadi. Pemicunya banyak sekali. Mulai dari hilangnya perkakas mandi, hingga kecemburuan atas anak-anak kesayangan Abi dan Ummi: panggilan khusus guru-guru disekolah dulu.

Continue reading “Kamu Tidak Bisa Dikritik?”

Sendiri

Terimakasih diri, untuk kau yang mampu menjaga muruahmu. Aku bahagia ada bersamamu, kita berdua di satu badan.

Teruntuk jiwaku yang sebenarnya lembut, kau tak perlu merasa kuat selamanya. Boleh saja hari ini hatimu memakai kabung, besok tentu kau bisa melepaskannya.

Tak perlu kau perumit cintamu, sudah jelas yang mengharapkanmu lebih pantas kau cintai, yang juga kau harapkan: itu hanyalah sebuah bonus. Kau taukan, tak selamanya bonus itu baik. Kau, mengerti lah.

Hari ini, tidak ada yang memastikan, kau berjumpa dengan siapa, kau jatuh hati pada siapa atau kau terluka karena siapa. Maka, bersiap-siaplah pada setiap momen yang akan mengejutkanmu.

Dan di setiap sisi dari semua yang kau lewati, akan selalu ada tempat berteduh dimana kau harus diam sejenak dan bergantung pada-Nya. Ingatlah bahwa hanya Dia satu-satunya tujuan akhirmu.

Love, Anta.

Jangan Terburu-buru

Seperti judul diatas, saya tidak ingin terburu-buru menyelesaikan tulisan ini. Dan seperti biasa saya akan bercerita. Karena memang saya suka bercerita, terus bercerita, menceritakan cerita, sampai nanti, selamanya dan mudah-mudahan bisa buat buku ya, huahaha.

Peringatan: Saya kadang sering memulai dari cerita ngaur, kalau bosen baca cerita saya, coba deh langsung ke bagian subtitle Jangan Terburu-buru dibawah, scroll down cepetan!

Biarlah kali ini saya lagi dan lagi, melibatkan satu-dua orang terdekat sebagai obyek cerita, barangkali ada yang kisahnya hampir-hampir mirip. Mungkin ini bisa dijadikan sebagai renungan diri, kalau kita ini hidup tidak perlu terburu-buru. Meski ada yang mendefinikan hidup adalah sebuah kompetisi, maka sepatutnya kompetisi itu antara diri sendiri yang dulu dan sekarang. Jadi tidak perlu harus diburu-buru.

Without further due, akhirnya circle pertemanan intim di kota kelahiran saya semakin ramai, walaupun masih dengan teman sejawat dan seperantauan. Senangnya adalah sudah pasti mereka akan menjadi bagian dari pelengkap kebutuhan hidup saya, hangout with my girls: momen sharing dan bertukar pikiran selain bersama keluarga. Teman dekat yang paling bisa mengerti nada bicara, intonasi dan kadangkala kata-kata “kasar” tapi tidak bermaksud sebenarnya.

Continue reading “Jangan Terburu-buru”

Yay! Belajar Bahasa Arab

Semua memang diawali dengan niat. Intention kearah mana itu hanya pelaku yang paham betul. Termasuk niat baik yang tulus dan murni. Saya pikir belum banyak niat saya yang seperti itu, terkhusus untuk lebih mendekat dengan Sang Maha Pencipta.

Anehnya, niatan baik meskipun diusahakan atau tidak, sepertinya selalu dipermudah. Ditargetkan atau hanya sebuah keinginan biasa selalu saja diarahkan ke jalannya tanpa terduga.

Saya baru menyadari sedikit demi sedikit Allah kabulkan niat baik yang pernah sempat terlintas dipikiran dan terucap oleh saya dulu-dulu. Memang bukan yang saya prioritaskan untuk ingin segera dikabulkan. Yang jelas, karena ada hal yang tidak bisa saya jangkau, tidak bisa saya menerka-nerka, saya mantab dan yakin akan skenario yang datang dari-Nya.

Continue reading “Yay! Belajar Bahasa Arab”