Menyesali

Tidak bisa dideskripsikan dengan baik. Yang pasti, kalau sudah di posisi ini, tidak pernah ada yang merasa berbangga hati.

Ntah sebentar atau selamanya, tergantung seberapa meng-efek akibatnya hingga nanti-nanti.

Kenapa tersadar baru ini? Padahal sempat beberapa kali terlihat jelas menawar diri.

Bagaimana tahu? Ia begitu asing. Sangat asing. Mungkin, yang se-judgmental ini, terlalu sempit pikirannya hingga tidak mampu menerjemahi.

Tak pernah merasa sebelum ini. Tilikannya memang warna-warni. Cukup indah dipandangi. Ingin kembali, lagi dan lagi.

Ya sudah, mungkin bukan ini yang sebenarnya ia maknai. Hanya lambaian tangan fajar kemarin, yang dengan cepat berlalu bersama senja sore ini.

Kalau boleh, ingin kata “Hello” berarti selamanya. Tapi sayang tak mungkin menolak “Goodbye”.

***

My silly feelings today! Haha I wish I could do better than this.

Enjoy Tuesday!

Love, Anta.

Iklan

Bukan Sule Prikitiw

Siapa yang tidak pernah merasa dibenci, dijauhi, diperolok? Sepertinya semua orang pasti pernah.

It’s so human nature, merasa tidak nyaman kalau ada orang yang menolak eksistensi kita. Kalau sudah begini, bukan mengabaikan, justru kita condong melakukan ‘semua hal’ supaya dia menerima kehadiran kita. Termasuk menjadi ‘orang lain’ pun gak masalah. Asalkan dia bisa sayang.

Lanjutkan membaca “Bukan Sule Prikitiw”

Happy Tuesday!

This is a narration from Ustadz Nouman Ali Khan. I am so falling in love with those few words. I bet you really want to read this too.

“… Don’t let people’s opinion of you turn into your opinion of yourself. If people have a very low opinion of you, you shouldn’t have a low opinion of yourself.

And, if people have a very high opinion of you, you shouldn’t translate that into a high opinion of yourself.

You need to be true to yourself despite people think.

People’s praise or people’s criticism at the end of the day is meaningless. What is truly something of value is what you know to be true about yourself, honesty to oneself too.

Nobody else desides what you are, you do…”.

My word:

You can be as fragile as you can. But remember, strong is not an option!

Happy Tuesday, my favorite day!

Love, Anta

Kebiasaan Merokok Mengobrak-abrik Keluarga?

Sebagai anak, saya selalu berupaya keras untuk membahagiakan orang tua, termasuk menengahi konflik yang tidak pernah selesai diantara mereka. Pasti ada saja. Parahnya, setiap ‘topik’ itu mulai dibahas, ujung-ujungnya adu mulut. Selalu.

Yang bisa saya contohkan disini adalah merokok. Siapa yang setuju dengan merokok? Jelas yang setuju jauh lebih banyak adalah dari kalangan perokok itu sendiri. Dan mereka selalu punya alasan masing-masing untuk menyangkal bahwa rokok mendominasi negatif serta membenarkan claimed ‘Rokok Menghilangkan Stres’ atau slogan rokok lainnya yang tidak bisa saya pahami.

Lanjutkan membaca “Kebiasaan Merokok Mengobrak-abrik Keluarga?”

Officially 23

Saya ingat betul waktu masih kecil dulu, ketika kue tar bertingkat dengan hiasan lilin kecil berjejer diatasnya, dikelilingi tumpukan cream manis warna-warni, ada juga beberapa buah cherry yang semakin memperindah bentuk rupanya.

Gaun bak Princess Aurora, saya kenakan, karena memang ingin menjadi pusat perhatian. Tidak lupa tas kecil blink saya lingkarkan di lengan kiri saya dan tidak lupa kipas kecil pada tangan kanan saya untuk menambah kesan elegant hari itu.

Lanjutkan membaca “Officially 23”

Pilihan Kembali Buncit

Setelah setengah bulan lebih saya menikmati hari demi hari pasca lebaran, liburan kemarin betul-betul membuat saya kapok bertubi-tubi.

Kurang aktif saya dari biasanya, cukup melatih saya terlena dengan tidur siang yang panjang dan porsi makan satu piring penuh. Bukan dua tiga kali, lima kali lebih perhari. Demi kenikmatan yang super instan tadi, saya rela mengorbankan pola makan yang sudah tersusun rapi sejak dua bulan yang lalu.

Akhirnya, memang sudah pilihan harus kembali buncit dan susah bernapas.

Jadwal mandi kacau, makan sebentar-sebentar, tidur sesuka hati setelah makan, tidak lagi tahu waktu, parahnya saat bingung mau ngapain, ujung-ujungnya tidur. Padahal dalam KBBI baru saya, tidak ada istilah bingung di waktu luang karena jelas banyak yang bisa saya kerjakan untuk melatih skill. Terutama skill mendesain, atau menjahit, atau menulis.

Lagi lagi saya harus menghianati diri saya. Tapi ini sudah keterlaluan. Bahkan memberdirikan pensil pada posisi stand-case nya saja atau setidak-tidaknya merapikan tatanan kosmetik di meja kaca pun, saya enggan. Jangankan itu, tidak mandi pagi sampai besok pagi nya lagi, diundur lagi siangnya, eh gak jadi, dan akhirnya mandi malam jadi rutinitas.

Tapi yang besar jiwanya, sehina-hina seseorang yang pantas dan wajib mendapatkan maaf sebelum ada permohonan maaf adalah diri sendiri.

Syukur Alhamdulillah saya masih bisa mencoba mengeluarkan sisi baik dari raga saya, yang berbicara pada diri saya sendiri.

***

Saya perlu katakan maaf karena deskripsi diatas memang berlebihan. Tapi poin yang ingin saya sampaikan sejujurnya bukan itu. Lebih dari sekedar curhatan mandjah, bahwa Saya sadar kalau terus mengikuti nafsu untuk bermalas-malas, tidak akan pernah saya dapatkan sebuah pencapaian walau hanya sedikit. Nihil.

Langkah untuk maju tidak semudah mematahkan satu batang lidi. Ada satu tumpukan lagi yang harus dipatahkan. Sering memang kita dimanjakan dengan begitu besar kemauan yang hanya timbul saat-saat tertentu saja. Ibarat mematahkan satu tumpuk lidi secara bersamaan dengan tangan kita yang lemah ini.

Tapi, jika setumpuk lidi tadi kita patahkan sedikit demi sedikit, lama-lama dia akan habis juga. Sama seperti hal kecil yang sebenarnya bisa kita mulai untuk hasil yang besar. Butuh kesabaran, konsistensi dan disiplin kerja. Begitu banyak anak muda yang justru pondasi peradaban, sangat mudah menyerah, hanya karena mimpinya tidak didapatkannya secara instan.

Bukan lagi besok atau tunggu saat yang tepat. Tapi pilihlah sekarang. Lakukan hal kecil untuk mendahului hal besar yang akan kau lakukan besok. Waktu sekarang begitu berharga. Jangan sia-siakan waktu hari ini untuk kau dapat memaksimalkan nya.