Bisakan?

Dengerin coba kata hatimu
Biarin dia bicara jujur walau malu
Kalau tak suka, gak papa tau
Cukup biarkan ia mengoceh yang ia mau

Coba kali ini, ajak pikiranmu ngalah padanya
Tidak sulit kok, dengerin aja
Nanti kau juga tau rasanya
Kau bisa dapatkan yang kau cari di sana
Mudah-mudahan ya

Hmm lalu begini
Setelah kau dekati
Ia akan kenalkan temannya yang seperti belati
Menusuk tapi sebenarnya tidak menyakiti
Ia adalah waktu, yang kau mungkin tak peduli
Kau memang tidak ingin ia temani
Tapi ternyata cuma dia yang mengobati

Sudah bisakan begitu?
Jangan khawatir, kau akan baik-baik saja
Yuk sini, mari berberes diri

Iklan

Pertarungan dalam Hati

Saya pernah telalu pede sampai merasa kalau hati saya ini sudah terfokus ke Allah swt saja. Like I totally give all my heart to Allah, and only Him. Tapi kemudian, ada beberapa kali, sering malah, terlintas di dalam hati saya: “bener gak sih aku ini udah seutuhnya ke Allah?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada sering muncul di benak saya. Melihat diri yang begitu masih banyak berbuat dosa, most of the time secara sadar, saya menganggap diri saya ini jahat. I said yes Allah is my Illah, but then I disvowed.

Tapi makin saya mencoba pahami, itu tanda Allah sayang sama saya. Tanda Allah sedang ngasih tahu saya, kalau hati saya (mungkin) lagi gak bener. Saya sedikit demi sedikit tercerahkan kalau pain after pain yang saya alami sampai sekarang ini, sebenarnya calling dari Allah yang berkali-kali lho, Allah set supaya hampaNya kembali ke Dia.

Lanjutkan membaca “Pertarungan dalam Hati”

Siapa Pemilik Hati?

Sekarang, sedikit demi sedikit rasanya semua mulai berubah dan membaik. Apa saja yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan, jauh lebih menenangkan. Sekalipun normalnya orang-orang akan gusar dan panik, saya tetap santai walau sejatinya saya pun bisa pecah berantakan. Saya memilih hal tersulit walau butuh berjuta-juta kali mencoba. Apapun masalah yang saya hadapi, dan dari sekian banyak pilihan, pilihan saya cuma, dan harus satu, tenang.

Tapi bagaimana mungkin tenang? Saat ujung belati, mampu menusuk jantung hanya dengan satu tarikan nafas? Bagaimana logisnya tenang, jika nyawa harus hilang karena menyelamatkan nyawa?

Bukan tenang namanya jika masih mempertanyakan keadaan. Bukan tenang namanya jika masih menunggu jawaban. Bukan tenang namanya jika masih terus menuntut penjelasan.

Lanjutkan membaca “Siapa Pemilik Hati?”

What Are We Attached To?

In life people constantly produce mistakes and we cannot deny. We are often times stumbled and misguided even no matter how hard we try to mitigate. Pain, broken and disappointment become our daily basis. But still we refrain ourselves to notice that something should not be right and we neglect to make a changes.

Have you ever wondered why those all the sadness seemingly could never been enough for making our life worse? Instead of there is a better life coming, we at the end, more likely feel unsatisfied even though we have got almost everything we wanted. Wealthy, status, relationship, good job, happy family and anything we can name it as our priority to set us free and happy, do not define anything possible that we want perfectly in life.

I do not necessarily try to explain you why is that happen. But there is one thing for sure that we consciously know that there is nothing in this world that ultimately forever. You know what I am saying. That is because the definition of this dunya (world) itself is temporary. So whatever it is we find inside of it will also be in a stipulated time. We have ourselves wrong to hold on to.

Lanjutkan membaca “What Are We Attached To?”

Story of A Sweet Woman: Titik Balik

Lagi dan lagi, saya harus berkelahi dengan masalah yang itu-itu saja. Sampai saya menulis ini pun, yang terus merisaukan masih tentang media sosial. Dan saya rasa ada yang memang tidak beres dan tidak sehat disini. Iya disini, di WordPress ini.

Ini satu-satunya media yang saya pakai bisa mengekspresikan moody saya sampai lebih dari 3000 kata. Sampai sebanyak kata-kata yang ada pada setebal text book pun bisa. Sesuka hati pokoknya.

Hari ini saya mau ngomongnya mengalir begitu saja ya. Capek juga mikirin kata-kata yang begituanlah. Nulis itu capek sekali ternyata, pakai mikir soalnya. Selama ini, saya menulis tidak pakai mikir sih. Apalagi ilmu, cuman mengandalkan pengalaman aja. Itupun pengalamannya apalagi kesimpulan akhirnya, belum tentu universal, eh malah ngasal. Congkak sekali memang saya ini. Dan tanggungjawabnya adalah kalau orang sudah termakan konsep salah dari yang saya tulis, cemana pulak itu ah?

Sebenarnya ya gakpapa. Ya gak akan kenapa-kenapa, saya aja yang berlebihan kalau yang baca kenapa-napa, ya paling yang habis baca tulisan-tulisan saya, kesannya “Ini anak kenapa?” atau “Wah kita ke datangan sampah baru internet” atau pas baru baca paragraf awal “Apa sih?”.

Lanjutkan membaca “Story of A Sweet Woman: Titik Balik”