Menyuarakan Kebaikan dengan Kebaikan

Sebagian dari keluarga dan orang-orang terdekat mu, mungkin tidak suka dengan apa yang kau sampaikan. Mungkin kau kini lebih banyak belajar tentang agama dan kau mungkin lebih dekat dengan Tuhanmu, tetapi keluargamu tidak dan itu justru membuatmu marah dan geram.

Kau marah ketika saudaramu tidak memakai hijab, kau marah saat saudaramu tidak sholat lima waktu, kau marah saat caramu dan cara mereka memilih pempimpin berbeda, dan kau lebih marah lagi ketika pilihanmu untuk mengikuti Qur’an dan Sunnah justru melebeli mu seorang teroris. You get so mad at them.

No, don’t get angry at them.
Jangan marah, tahan amarahmu.
Bicaralah dengan tenang, bicaralah dengan damai.

Marahmu hanya akan membawa mereka semakin jauh dari Islam. Marahmu tidak akan membuat mereka lebih dekat dengan Tuhan. Untuk itu, kau harus memiliki hati yang lembut terhadap orang-orang yang belum sampai pada titik dimana kau berada sekarang.

Ingatkah kau dulu pun pernah tidak sholat lima waktu. Kau pernah tidak menutup auratmu dengan baik. Kau pernah berada di posisi mereka dan jika seseorang datang kepadamu dengan penuh amarah mengajakmu untuk beribadah kepada Tuhan, kau bergegas melaksanakannya atau kau malah menjauh? Think about that.

Kini, Allah telah melembutkan hatimu, dan sekarang pun kau harus sabar menunggu Allah melembutkan hati mereka, dengan tetap bersikap lembut.

Dan ingatlah, ketika Allah memerintahkan Musa a.s untuk bersikap baik kepada Fir’aun padahal Fir’aun pernah mencoba membunuhnya ketika ia a.s masih bayi. Fir’aun membunuh beribu-ribu anak bayi setiap tahunnya dan dia bahkan menyebut dirinya Tuhan. Ada banyak sekali alasan untuk membenci Fir’aun, namun Allah menginginkan Musa a.s untuk bersikap baik.

Kalaulah kau saja seharusnya bersikap damai and have to be nice to Fir’aun, lalu bagaimana dengan keluargamu? Bapak dan Ibumu? Kakek Nenekmu? Paman dan Bibimu? Kakak, abang dan adikmu? Sahabatmu? Orang-orang tersayangmu?

Ya, mereka adalah orang-orang yang membuat kau marah. Keluarga dan orang-orang terdekat memang yang paling mudah membuat kau marah, tetapi mereka pun adalah orang-orang yang paling pantas mendapatkan kebaikan dan kelembutan darimu. They are people that deserve the most kindness and the softest responses from you.

Remember, they’re your loved ones.
So don’t get angry at them.

#MatrikulasiNAKID @nakindonesia

Sumber: https://youtu.be/YsCAODsbZ2o

Antara Bilang yang Benar dan Kurang Makan Garam

Akhir 2015 aku ingat banget, waktu itu sedang ada pertempuran di Gaza, aku bisa bilang itu momen dimana aku lagi puncak-puncaknya sadar, atau mulai sadar kali ya, bahwa ada isu besar umat muslim, yang lagi ramenya dibicarakan di social media, yang dulunya aku mah bodo amat.

Entah kenapa waktu itu juga ada battle dalam diri aku, antara aku mencoba menjadi idealis atau aku harus menerima banyak yang nggak suka sama aku. Case-nya disini adalah, aku pengin banget raise awarness soal itu, tapi di sisi lain, I know, I know banyak orang-orang di circle aku pasti bakalan nggak suka. Circle yang mostly aku bangun reputasi, so aku jadi harus mengikuti ‘permainan’ di circle itu. Dan nggak enaknya itu, rata-rata mereka menganggap kalau isu itu berlebihan dan nggak terlalu penting juga untuk dibahas. I assume sih begitu.

Gini, jadi waktu itu juga, antara hoax atau enggak, orang kan pada nggak tau ya, nah yang aku tau itu bener-bener terjadi dong, kayak yaAllah mereka itu saudara-saudara aku, aku ikut merasakan kesedihannya, banget-banget-banget. Nah ini nih yang memicu battle tadi. Kenapa aku enggan ya untuk share yang kayak gitu, kenapa aku takut, kenapa, kenapa, kenapa?

Lanjutkan membaca “Antara Bilang yang Benar dan Kurang Makan Garam”

Harapan dengan Ikhtiar dan Syukur Terbaik

Salah satu yang bikin aku akhirnya memilih jalan untuk kembali ke Allah adalah, harapan. Harapan ibarat air, yang sangat diperlukan makhluk hidup untuk tumbuh. Oleh sebab itu pula, di dalam Al-Quran Allah mention kalau segala sesuatu yang hidup berasal dari air.

Harapan membuat kita untuk tidak mudah menyerah. Meskipun, dosa kita banyak banget sampai kita mikir, gak mungkin nih Allah ampunkan, padahal Allah sendiri loh yang memfasilitasi kita dan mengaransi kita harapan bahwa, Allah selalu menginginkan kita kembali, Allah nungguin kita pulang ke Allah.

Cuman pada akhirnya, aku sadar yang Allah minta cuman satu, jauhi dosa-dosa besar. Dosa yang secara sadar kita lakukan, tapi kita masih tetap lakukan. Astaghfirullah, begitu sulit memang untuk istiqomah, tapi lagi-lagi di awal, selalu ada harapan untuk bisa berubah, gak ada yang mustahil bagi Allah, apalagi untuk memudahkan kita di jalan ibadah, selama kita mau berusaha.

Mungkin, dulu aku yang punya teman, yang gak terlalu memperdulikan perihal peribadatan kepada Allah, sehingga aku akhirnya ngikut juga. Tapi aku lebih gak mau menyalahkan siapa-siapa, soalnya yang salahkan kita juga, milih teman harusnya yang membawa kita untuk kebaikan, bukan malah justru menyesatkan diri kita sendiri. Misal, sholat fardhu mudah banget ninggalin.

Jadi, teman itu salah satu faktor penting penyokong, semangat spiritual kita. Menurut aku kayak gitu, karena, memang terbukti, aku gak bakalan main ke clubbing, kalau teman aku anak rumahan semua kan? hehe ya meskipun dulu btw aja nih ya, aku pernah diajak teman kampus ku, ketemu sama gebetan yang dia kenal di Facebook, ya ke tempat orang-orang rocker nge-jam gitu. Demi apa, I am the only one yang pake jilbab, dan teman aku gak pakai jilbabnya waktu itu. Tapi itu cuman beberapa menit doang, karna habis itu aku langsung minta pulang wkwk.

Lagi-lagi aku bersyukur Allah pada akhirnya tetap mendekatkan aku pada teman-teman satu lingkaran di kampus. Meskipun kadang aku join sesekali, wkwk untuk akhirnya sadar dan bisa mulai instens belajar baiknya haha. Padahal aku apalah, tapi Allah datangkan teman-teman aku yang luar biasa, dan akhirnya aku pun termotivasi untuk bisa menjadi lebih baik.

Bener banget sih, kalau kita dalam kondisi ngerasa nggak punya harapan sekalipun, kita seharusnya tetap bersyukur dengan apa keadaan kita sekarang. Contohnya aku sendiri, waktu itu udah hopeless baget kan, aku ingin bertumbuh, tapi aku gak punya circle yang memadai. Tapi aku mencoba mencari alasan bahwa sebenarnya, aku aja yang kurang melihat opportunity baik dan akhir baiknya, sedikit demi sedikit aku dipertemukan dengan support system terbaik aku, yang membersamai bertumbuhnya aku hingga sekarang ini. Karena Allah bilang, kalau kita bersyukur dengan yang kita punya sekarang, ntar Allah pasti-bakal-janji akan menambahkan kita, apapun yang kita butuhkan.

Bismillah, gak ada kata terlambat, kita mencoba menjadi baik sama-sama ya 🙂

Resume:
#MatrikulasiNAKID
1. http://gg.gg/pekan4-1 (8 menit) – Kembali kepada Allah
2. http://gg.gg/pekan4-2 (7 menit) – Mampu kembali kepada Allah
3. http://gg.gg/pekan4-3 (6 menit) – Syukur

Hadiah Terbaik, Luka Tak Kunjung Sembuh dan Orang yang Merugi

Semua fase kehidupan yang terjadi dalam hidup kita, baik dan buruknya, pada akhirnya memaksa kita untuk yakin pada takdir Allah. Bahwa segala sesuatu yang terjadi pada hidup kita, memang sudah ditargetkan begitu. Kalau teman aku bilang, hidup kita baik dan buruknya udah sepaket, jadi gak bisa pilih yang senang-senang aja.

Mungkin kita bertanya, masa iya Allah ingin keburukan terjadi sama kita?

Musibah itu enggak selalu buruk, itu memang sesuatu yang Allah inginkan terjadi dalam hidup kita, dan Allah Maha Mengetahui. Apakah kita akan sangat menderita atau akan sangat merasa bahagia karena hal tersebut, we’re always pleased with the will of Allah. Itulah bentuk pengakuan kita, atas kehambaan kita kepada Allah.

Lanjutkan membaca “Hadiah Terbaik, Luka Tak Kunjung Sembuh dan Orang yang Merugi”

Pengalaman buruk bareng Bule

Aku harap kalian gak mikir yang aneh aneh ya wkwk

Long story short, aku pernah melakukan kegiatan volunteer di salah satu urban area di Sumatera Utara, pinggiran Kota Medan, yaitu Belawan. Dulu aku cukup aktif di AIESEC USU dan kesempatan ketemu sama Bule itu gampang banget. Di projek Belawan ini, kita ambil issue community development, dimana kami bekerja sama dengan salah satu NGO, waktu itu, Good Neighbour Indonesia yang ada di Belawan, yang memang mereka fokus dengan pertumbuhan di daerah tersebut. Supaya lebih mudah dan komunikasi lancar, kami akhirnya menggandeng NGO yang emang udah lama disana.

Oh iya aku lupa bilang ya, AIESEC ini emang organisasi international gitu, uniknya memang, di setiap projek kita kayak mengundang volunteer dari luar negeri. Tapi ada juga kok beberapa projek yang enggak harus ada volunteer dari luar negerinya.

Nah, jadi kita, aku dan tim suatu hari pernah observasi, biasa emang setiap hari kita datang, bergantian, dari Medan perwakilan untuk ngelihat susana dan sambil ikut juga dengan beberapa aktivitas bule-bule ini.

Lanjutkan membaca “Pengalaman buruk bareng Bule”